У нас вы можете посмотреть бесплатно Haul Mbah KH. Husen или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Silaturahmi Batin Menjelang Bulan Ramadhan Aku mencintai shalihin, walau aku bukan mereka Boleh jadi lantaran mereka, aku mendapat syafaat Diwan Asy-Syafi’i Mbah KH Husen bin KH Muhammad bin KH Musa ‘Azhmat Khan lahir di Kampung Anjun, Legon Kulon, Pamanukan, Subang, pada tahun 1855 M dan wafat pada tahun 1935 M. Dari jalur ayah, nasab beliau sampai kepada baginda Rasulullah, Muhammad SAW melalui Mbah Sayyid Sulaiman. Terkait dengan Mbah Sayyid Sulaiman, dalam babad jawa disebutkan sebagai salah satu putra dari Syarief Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Disebutkan dalam satu riwayat, KH Muhammad bin KH Musa tinggal di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, namun berasal dari Cirebon. Beliau kemudian menikah dengan gadis solehah asal Legon Kulon, Nurjannah atau lebih dikenal dengan sebutan Nini Gudang. Dari Nini Gudang ini, Mbah KH Husen masih memiliki garis ke Kerajaan Pasundan (Pajajaran). Nini Gudang merupakan putri dari Mbah KH. Abdurrahman yang lebih akrab dipanggil Mbah Dur, sosok ulama yang cukup disegani saat itu karena memiliki pengetahuan yang luas terutama di bidang agama dan hikmah. Mbah KH Husen merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Kakak dari Mbah KH. Husen, atau anak pertama dari pasangan KH. Muhammad – Nini Gudang adalah KH Hasan Sukun Sari (Plered, Cirebon), yang merupakan kakek buyut dari KH Said Aqil Siraj dan KH Mustofa Aqil Siroj. Sedangkan anak kedua KH Muhammad – Nini Gudang merupakan seorang putri yang bernama Inayah. Selain berprofesi sebagai pedagang sekaligus petani tambak yang memiliki lahan tambak mencapai ratusan hektar, di samping tanah sawah dan ladang, Mbah KH Husen merupakan seorang Syeikh dari Tarekat Syattariyah yang tergolong tarekat mu’tabarah di Indonesia. Beliau menelusuri silsilah spiritual dan memperoleh ijazah khalifah dari Kiai Amin Balerante dan seterusnya hingga kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa kekayaan spiritual. Dzurriyyah (anak keturunan) Mbah KH. Husen dengan Ibu Hajjah Halimah saat ini sudah tersebar di seantero Jawa Barat, Cirebon, Jakarta serta di Kepulauan Seribu. Umumnya mereka menjadi pemimpin (umaro) dan tidak sedikit pula yang menjadi ulama, salah satunya KH Abdul Hamid Husen, pimpinan Majelis Dzikir Ikhwanushshofa, Jakarta Selatan. Saat ini, makam Mbah KH Husen sudah diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Subang sebagai salah satu Cagar Budaya dan salah satu tujuan Wisata Ziarah. Letak areal pasarean ini hanya beberapa kilo meter dari pantai Pondok Bali. Setelah sesi ziarah selesai, sebagian jamaah, terutama yang membawa keluarga, meneruskan perjalanan berwisata ke pantai Pondok Bali, yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata pantai di Kabupaten Subang.