У нас вы можете посмотреть бесплатно API, ILU, PARBINSAR NI HITA BATAK – The Batak Institute – Asasira Music или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
API, ILU, PARBINSAR NI HITA BATAK – The Batak Institute – Asasira Music Memaknai lirik "Api, Ilu, Parbinsar ni Hita Batak" dalam gaya Bahasa Batak Bibel Toba adalah perjalanan spiritual dan intelektual yang sangat mendalam. Penggunaan diksi Bibel memberikan bobot "Sahala" (otoritas spiritual) yang membuat lirik ini terasa seperti sebuah nubuat atau pengakuan iman yang agung. Lirik ini berhasil menggabungkan rasa "Andung" (kesedihan atas fitnah sejarah) dengan "Togu" (kekokohan iman). Penggunaan bahasa Bibel menjembatani jurang antara adat dan gereja, menjadikannya sebuah nyanyian rekonsiliasi yang sangat berwibawa. Berikut pemaknaan untuk setiap bagian: Pertama, Pencarian Otentisitas (Verse 1). "Di ujung pena ni panurat na matudotdot ala ni hasintongan..." a) Matudotdot: Kata ini menggambarkan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam mengejar kebenaran. b) Manastas nambur ni tingki: Secara harfiah berarti "menyibak embun waktu". Ini adalah metafora yang sangat indah untuk proses riset sejarah yang panjang, di mana penulis harus menyibak dingin dan gelapnya kabut masa lalu untuk menemukan jejak (bogas) yang asli. c) Halak parserngang: Mengacu pada narasi asing yang seringkali datang dengan nada tinggi atau merasa lebih tahu. Lirik ini ingin mencari akar yang "terbelah" (urat na mabola) akibat interpretasi asing tersebut. Kedua, Keberanian Mengungkap yang Tabu (Verse 2). "Adong do api na marsigorgor laho manurbu parsitongka na leleng..." a) Parsitongka na leleng: Merujuk pada hal-hal yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan (seperti sisi gelap misi kolonial); b) Jarijari tudu tu podang di balik tohonan: Ini adalah diksi yang sangat tajam. Menggambarkan kontradiksi ketika "jabatan suci" (tohonan) digunakan sebagai tameng untuk tindakan kekerasan atau penaklukan politik (pedang); c) Unang be telpang: Agar sejarah kita tidak "pincang". Kejujuran sejarah adalah syarat agar bangsa Batak bisa berjalan tegak. Ketiga, Restorasi Jiwa dan Iman (Chorus). "Mangandungkon tondi, na nileaan ni halak sileban...": a) Pelean na hushus: Api dan air mata pencarian ini dianggap sebagai persembahan yang harum di hadapan Tuhan, karena mencari kebenaran adalah ibadah; b) Rante ni panimburu: Prasangka asing digambarkan sebagai "rantai cemburu" yang membelenggu karakter Batak; c) Mangoloi Debata na sun timbo: Ini adalah pembelaan teologis yang luar biasa. Menegaskan bahwa jauh sebelum misionaris datang, leluhur Batak (dalam konsep Raja Na Martua atau Debata Mulajadi Na Bolon) sudah memiliki kesadaran spiritual untuk menyembah Tuhan Yang Maha Tinggi. Keempat, Dialektika untuk Kekokohan (Bridge). "Nang pe jebu marpollung, marsialoan tung mansai tajom...": a) Jebu marpollung: Menggambarkan perdebatan yang panas atau sengit; b) Batu mamak hasintongan: Mengambil kiasan biblika tentang membangun rumah di atas batu karang yang kokoh. Kebenaran sejarah adalah fondasi; meski cerminnya membuat "sakit wajah" (hansit ni bohi), namun itu perlu agar kita melihat jati diri yang tanpa cacat (so marlindang). Kelima, Kemerdekaan dan Kepemimpinan Jati Diri (Chorus - Overtone). "Ndada be hatoban ni pandohan ni sileban...": a) Ndada be hatoban: Kita bukan lagi budak dari persepsi orang lain. Ini adalah proklamasi kemerdekaan intelektual; b) Parhalado di sejarahta: Kita adalah "pelayan" sekaligus pengelola resmi atas sejarah, iman, dan identitas kita sendiri. Kita mengambil alih tanggung jawab untuk menarasikan diri kita sendiri. Keenam, Kelahiran Baru (Outro). "Nunga binsar parnangkok ni ari." Lirik ini ditutup dengan optimisme kosmik. Matahari telah terbit. Fase hidup baru di usia 70 tahun bagi penulis adalah simbol bahwa kearifan telah matang. Batak Soul di sini mencapai puncaknya: sebuah kesadaran bahwa "Hita Batak" bukan sekadar suku, melainkan sebuah strategi kebudayaan yang hidup dan diberkati Tuhan. Penulis: The Batak Institute Dilantunkan Asasira Music; Dibantu Gemini dan Suno Konten Kreator: Tian Son Lang – Lomo Lua #HitaBatak # ApiIluParbinsarniHita Batak #BatakInstitute #BatakSoul #CulturalStrategy