У нас вы можете посмотреть бесплатно CERITA PARA KIAI | Jejak Pengabdian Kiai Asal Blitar, Pimpin Pesantren di Pinggir Kota Balikpapan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #pesantren #kiai #guru #ceritaparakiai #ramadan #puasa Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru BALIKPAPAN - Kehidupan santri nyatanya tak bisa lepas dari bentuk pengabdian untuk masyarakat. Mulai dari pengabdian berbentuk sosial di tengah masyarakat, hingga berdakwah di daerah-daerah terpencil. Hal inilah yang dijalani Pengasuh Pondok Pesantren Al Izzah Balikpapan, KH. Muhammad Muhlasin. Ponpes Al Izzah berada di Jalan Sungai Wain, Km 15, Karang Joang, Balikpapan Utara. Dari pusat Kota Balikpapan, Kalimantan Timur kurang lebih 15 Km ke arah utara. Sebelum memimpin ponpes tersebut, dirinya sudah lebih dulu tinggal di lingkungan santri. Terlebih, dirinya lahir di Blitar, Jawa Timur, kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Tak ayal, sejak kecil dunianya tak jauh dari tradisi kepesantrenan. "Ibarat kata, kami kecil, tumbuh memang sudah di lingkungan pesantren. Otomatis orang tua kami mindset-nya adalah anak-anaknya harus nyantri. Alhamdulillah pertama saya pesantren di tempat Mbah saya sendiri," ungkapnya, Sabtu (14/2/2026). Perjalanan menuntut ilmunya dimulai di pesantren milik sang kakek, saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD). Tepatnya di Pondok Pesantren Hidayatul Mustafidin, Blingi, Kabupaten Blitar. Namun, setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Kediri. Tak berhenti disitu, Muhlasin muda kembali menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Balikpapan pada 1986. Setelah orangtuanya membawanya merantau ke Kota Beriman -- sebutan Kota Balikpapan hingga tahun 1990. Kemudian, Kiai Mukhlasin kembali ke Tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Dzalām, Pasuruan, Jawa Timur, di bawah asuhan KH. Anwar Siraj. Siapa sangka, sosok inilah yang paling membekas dan menginspirasi dalam perjalanan hidupnya. "Beliau itu bukan hanya seorang kiai, pengasuh pesantren, tapi maqam-nya sudah sampai murabbi. Murabbi itu yang mendidik dan mendampingi rohani kita," jelasnya. Kesederhanaan serta kesungguhan KH. Anwar menginspirasi pribadi Kiai Muhlasin dalam mendidik dan memimpin pondoknya hingga saat ini. Termasuk juga, KH. Ahmad Sarwani Zuhri yang dulu juga sempat membentuk sisi kedisiplinan dan kepemimpinannya. Bekal inilah yang membawanya aktif berorganisasi. Mulai dari Ketua Ranting NU, Ketua PCNU Balikpapan dua periode, hingga kini dipercaya sebagai Katib Syuriah PBNU Kalimantan Timur. "Itulah yang membawa dan membentuk kepribadian saya walaupun tidak mungkin bisa sesempurna guru-guru saya. Juga dengan tidak mengurangi guru-guru yang lain, karena kiai-kiai itu memiliki karakter khas tersendiri di antara satu sama lain. Tapi saling melengkapi," kenangnya. Sepulang dari Pasuruan pada 1997 lalu, Kiai Muhlasin bermukim di Balikpapan. Tiga tahun berselang, tepatnya tahun 2000, tokoh-tokoh masyarakat Karang Joang memintanya untuk menetap di kawasan Sungai Wain. Bahkan, ia dipercaya memimpin pesantren yang dibangun melalui sistem wakaf dan gotong royong masyarakat setempat. Kini, pesantren tersebut berdiri kokoh di pinggiran Kota Balikpapan. Tepatnya di Jalan Sungai Wain Km 15, Balikpapan Utara. "Bangunannya masih sederhana. Belum dikatakan bagus, tapi yang penting kan fungsinya," ucapnya. Pesantren itu kemudian diberi nama Al-Izzah, yang bermakna kemuliaan dan kemenangan. Menjadi harapan agar anak-anak di lingkungan tersebut tumbuh menjadi generasi yang mulia, merdeka, dan kuat dalam ilmu serta agamanya Terlebih-lebih, kala itu, wilayah Km 15 masih dikenal sebagai kawasan eks lokalisasi. Kondisi tersebut justru menjadi dorongan kuat bagi masyarakat untuk menghadirkan lembaga pendidikan agama. "Kebetulan memang di lingkungan km 15 itu dulu ada eks lokalisasi. Tapi sekarang alhamdulillah sudah bersih 100 persen, semua yang mendorong adalah tokoh-tokoh masyarakat saat itu," ungkapnya. Setelah kurang lebih dua dekade, cita-cita mulia itu perlahan terwujud. Kehidupan Pondok pesantren Al-Izzah kini disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, baik untuk santri maupun masyarakat sekitar. Setiap sore, hampir 200 anak mengikuti kegiatan TK/TPA di pondok pesantren tersebut. Bahkan, adapula pendidikan PAUD, TK, hingga SMK Cendekia Al-izzah yang aktif di pagi hari. Termasuk juga, setiap Ahad pagi, sekitar seratus warga mengikuti majelis taklim khusus orang tua. Bahkan di tahun ini, pesantren tersebut juga berencana membuka SMP Cendekia Al-Izzah. Selain itu, lokasi pesantren ini yang dekat dengan kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK) membuat beberapa mahasiswa turut mondok di sana, meski jumlahnya belum banyak. Editor Vidio: Ahmad Faiz Faqih (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks YouTube business inquiries: 081144407111 Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur