У нас вы можете посмотреть бесплатно DEBAT! Beda Pendapat DPR, Feri Amsari, dan Qodari soal Siaga 1 TNI hingga Impor Beras | SATU MEJA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin menyatakan status siaga pada dasarnya merupakan mekanisme internal militer yang digunakan untuk kesiapan pasukan. Menurutnya, langkah tersebut tidak selalu perlu diumumkan secara terbuka karena berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat. Hasanuddin juga menilai muncul berbagai spekulasi publik mengenai alasan di balik status siaga tersebut, mulai dari isu keamanan global hingga dinamika politik domestik. Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai persoalan utama yang dihadapi pemerintah saat ini adalah kepercayaan publik terhadap data dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, ketika pemerintah menyampaikan klaim swasembada beras, namun di saat yang sama masih terjadi impor beras dalam jumlah besar, hal tersebut memunculkan pertanyaan di masyarakat. Menurut Feri, perubahan drastis ini perlu dijelaskan secara transparan kepada publik, terutama karena tidak terlihat adanya lonjakan produksi padi atau perluasan lahan sawah yang signifikan. Feri juga mempertanyakan mengapa harga beras di pasar masih tinggi, meskipun pemerintah menyebut kondisi produksi beras nasional membaik. Sementara itu Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari membantah tudingan bahwa pemerintah melakukan kamuflase data. Menurutnya, peningkatan produksi beras tidak hanya ditentukan oleh luas lahan sawah, tetapi juga oleh luasan panen serta peningkatan produktivitas pertanian. Qodari menjelaskan produksi pangan nasional meningkat dari sekitar 10 juta ton pada 2024 menjadi lebih dari 10,3 juta ton pada 2025. Peningkatan ini, kata Qodari, dipengaruhi berbagai faktor, seperti perbaikan sistem pengairan, distribusi pupuk yang lebih baik, serta penyederhanaan birokrasi bagi petani. Bagaimana menurut Anda? Selengkapnya saksikan di sini: • Видео #iran #panglimatni #indonesia