У нас вы можете посмотреть бесплатно Prospek Utang RI Negatif, Peringatan Fitch Serius или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
JAKARTA, KOMPAS.TV - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif. Pemerintah pun merespons dan bilang akan mempelajarinya. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bilang ekonomi terpengaruh bukan hanya oleh Fitch, tapi juga oleh perang. Meski demikian, Airlangga menyatakan akan mempelajari yang jadi fokus pertimbangan Fitch dalam menurunkan outlook, termasuk terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap akan membebani APBN pemerintah dalam jangka panjang. Menurut Airlangga, justru Bank Dunia serta Rockefeller Institute of Government melihat investasi pemerintah di MBG menghasilkan nilai tambah ke ekonomi Indonesia sebesar 7 kali lipat. Menurut Airlangga Hartarto, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap berada di level layak investasi. Dalam laporan resmi Fitch Ratings, penyesuaian outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia. Kondisi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada penyangga eksternal. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif dengan rasio utang RI sebesar 41 persen pada 2026, tertinggi sejak pandemi 2021. Apa ini sudah jadi alarm waspada? Kita bahas bersama ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. #rupiah #ekonomi #utangnegara