У нас вы можете посмотреть бесплатно Potret Ekonomi Lebaran: Tradisi Buah Tangan Pemudik di Tengah Penurunan Daya Beli или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, geliat ekonomi di sentra oleh-oleh khas Semarang terpantau masih belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. Meski jalur-jalur utama mulai dipadati kendaraan dari luar kota, para pedagang mengaku kondisi pasar masih sangat tenang dan cenderung sepi pembeli. Marsono, salah satu pedagang oleh-oleh di Semarang, mengungkapkan bahwa situasi saat ini belum mengalami perubahan dibandingkan hari-hari biasa. "Belum ada perkembangan sama sekali, Mas. Masih sepi aja. Ini memang dari awal sudah sepi, masa ini kan sepi banget," ujarnya saat ditemui di sela-sela aktivitas berdagangnya. Kondisi sepi pembeli pada fase arus mudik ternyata telah menjadi pola yang berulang dari tahun ke tahun bagi para pelaku usaha kecil di sektor ini. Menurut pengakuan pedagang, para pemudik yang baru datang ke Semarang biasanya belum memikirkan untuk membeli buah tangan karena fokus utama mereka adalah sampai di tujuan. Marsono menjelaskan bahwa peningkatan omzet biasanya baru akan terasa secara drastis justru setelah hari raya usai atau saat memasuki fase arus balik. "Kalau menjelang lebaran sepi. Setelah lebaran biasanya agak lumayan, pas arus balik itu baru lumayan pendapatan. Kalau arus mudik ke sini enggak ada," jelasnya. Lesunya daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi faktor pendukung mengapa pasar oleh-oleh terasa lebih berat tahun ini. Produk-produk ikonik seperti Wingko Babat dan Bandeng Presto yang biasanya menjadi primadona, kini tidak lagi terjual dalam jumlah besar di periode pra-lebaran. Marsono menilai penurunan kekuatan ekonomi di pasar-pasar tradisional sudah terjadi cukup lama dan merata di berbagai tempat. "Kalau beberapa tahun terakhir ini kan memang daya beli kan menurun, pasar-pasar udah lesu. Memang sepi, dari kemarin udah lesu. Di tempat-tempat lain juga sama katanya," tambahnya. Harapan untuk meraih keuntungan kini sepenuhnya tertumpu pada momen arus balik, di mana para pelancong dan pemudik mulai meninggalkan Semarang menuju kota asal mereka masing-masing. Di tengah ketidakpastian kondisi pasar, para pedagang hanya bisa bersabar dan menunggu gelombang pembeli yang biasanya baru akan memadati toko pada H+3 lebaran. Marsono menegaskan bahwa satu-satunya harapan bagi usahanya adalah perputaran ekonomi di masa arus balik nanti. "Arus mudik enggak ada, ya kayak gini aja. Banyak pada libur kok di sini. Harapannya ya arus balik saja berarti," pungkasnya menutup pembicaraan. Meski pasar secara umum dinilai lesu oleh pedagang, sejumlah pemudik yang singgah di Semarang tetap menyempatkan diri berburu penganan khas sebagai buah tangan untuk keluarga di kampung halaman. Salah satu pemudik asal Tegal, Isma, memilih Bandeng Presto dan kue legendaris lainnya sebagai pilihan utama sebelum melanjutkan perjalanan. "Iya lagi cari oleh-oleh, kebetulan kalau di Semarang khasnya Bandeng, jadi memang mampirnya ke Bandeng Juwana Elrina ini, mungkin setelah ini juga mau cari Bolu Chiffon Pelangi," ungkap Isma saat ditemui di pusat oleh-oleh Pandanaran. Bagi para pemudik, membawa oleh-oleh dari kota rantau merupakan tradisi tahunan yang tetap dijaga meskipun suasana mudik dirasakan tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Isma menambahkan bahwa membeli oleh-oleh khas adalah cara untuk merayakan momen pulang kampung dan berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara. "Mudik tahun ini kayak tahun-tahun sebelumnya sih, sama saja. Jadi paling seperti biasa bawa oleh-oleh dari kota yang kita merantau, terus nanti pulang bawa oleh-oleh khas kota yang kita merantau kayak Bandeng ini," pungkasnya.