У нас вы можете посмотреть бесплатно Juara 3 Ansambel Musik Campuran FLS3N Tingkat Nasional 2025 - SMP Negeri 1 Situbondo, Jawa Timur или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Video ini dipublikasi secara terbatas, untuk kepentingan final FLS3N tingkat nasional tahun 2025 secara daring. Lagu 1 : Luk Luk Lumbu (lagu daerah Banyuwangi); Ciptaan Andang C.Y; Arr: Dwi Hansen Lagu 2 : Indonesia Pusaka; Ciptaan Ismail Marzuki; Arr: Dwi Hansen Identitas Peserta: Profil Peserta 1. Nama:Amin Pasha Hidayatullah (Gitar) 2. Nama:Aidan Riski Pradana (Pianika) 3. Nama:Daffa Aidan Novandriano (Rebana) SINOPSIS LAGU LUK LUK LUMBU Luk Luk Lumbu adalah sebuah lagu rakyat dari Banyuwangi yang mengalir lembut seperti angin malam yang membawa harum bunga di halaman rumah. Ia bersenandung lirih tentang hati manusia yang mudah terbuai—terutama hati muda yang masih mencari bentuknya sendiri. Melalui citraan alam yang sederhana namun puitik, lagu ini menjadikan daun lumbu (keladi) sebagai perlambang jiwa yang labil: hanya tersentuh angin sedikit saja, ia telah bergoyang, mudah tergerak, mudah pula terluka. Dalam bahasa Osing yang dinyanyikan, lukisan suasana begitu terasa—angin sepoi membawa harum bunga, lalu hadir suara lirih yang mengingatkan: hati yang mudah terpikat, bisa terjerat oleh hal yang semu. Bait-bait lagu ini tak sekadar merangkai kata, tetapi menyimpan pesan mendalam tentang kewaspadaan dan kendali diri. Ia bercerita tentang pesona yang memabukkan, tentang rayuan yang manis namun menipu, dan tentang bagaimana manusia—khususnya kaum muda—kerap terperangkap dalam jaring rasa tanpa berpikir panjang. Sebagaimana burung kepodang yang cantik namun terjebak dalam jala karena keindahannya sendiri, begitu pula manusia bisa tersesat jika hanya mengikuti pesona luaran tanpa mempertimbangkan makna dan niat. Lagu ini bukan hanya tembang hiburan, melainkan bagian dari kearifan lokal masyarakat Banyuwangi. Di tengah kekayaan tradisi lisan dan musikalnya, Luk Luk Lumbu menjadi nasihat yang dinyanyikan, menjadi pantulan dari nilai-nilai hidup yang halus namun tegas. Ia hadir dalam pertunjukan rakyat, di antara bunyi kendang dan gending, tapi pesannya melampaui panggung: jangan mudah tergoda, jangan terburu mencinta, pikirkan sebelum melangkah, karena hati tak sekuat yang disangka. Dalam pentas ansambel campuran, lagu ini membuka ruang harmoni antara idiomatik pentatonis gamelan Banyuwangi, dan perpaduan tonalitas instrumen modern. Nada-nadanya mengalir perlahan, kadang lirih, kadang tegas, seperti petuah orang tua yang disampaikan dengan kasih. Dan di situlah kekuatannya—di tengah kemerduan, tersimpan pelajaran yang tak lekang oleh waktu: agar kita belajar menjadi seperti daun yang tahu kapan harus menari, dan kapan harus diam dari terpaan angin.