У нас вы можете посмотреть бесплатно Bagaimana Ketua RW Kunjung Mae Budidayakan Magot, Lava Handal Pengurai Sampah Organik или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #ketuarw #budidaya #magot #lava #sampahorganik Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Muhammad Thohad Hasil selama dua tahun terakhir menjalankan budidaya magot sebagai upaya pengelolaan sampah organik di wilayah RW 004 Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Magot atau Hermetia illucens merupakan larva lalat yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengurai sampah organik. Pemanfaatan magot dinilai efektif untuk mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan pupuk organik. Kegiatan budidaya tersebut telah dilakukan Thohad sejak sebelum menjabat sebagai Ketua RW. Namun, sejak akhir 2025, setelah resmi memimpin RW 004, pengelolaannya dilakukan secara lebih terstruktur dan melibatkan warga. Budidaya magot adalah bagian dari program Urban Farming yang menjadi salah satu prioritas Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Program tersebut mendorong peran aktif RT dan RW dalam pengelolaan lingkungan dan pengurangan sampah dari sumbernya. “Setelah jadi ketua RW, konsistensinya lebih meningkat,” ujar Thohad saat ditemui di Jalan Cendrawasih, Makassar, Rabu (11/2/2026). Di wilayah RW 004 terdapat sekitar 40 rumah. Untuk mendukung pemilahan sampah dari sumbernya, Thohad menyiapkan ember kecil di setiap rumah warga. Ember tersebut digunakan khusus untuk menampung sampah organik berupa sisa makanan rumah tangga. Sampah yang terkumpul kemudian dipindahkan ke media budidaya magot. Media budidaya yang digunakan berupa ember cat berukuran besar yang dimodifikasi. Pada bagian bawah ember dipasangi kran air sebagai saluran keluarnya cairan hasil penguraian. Cairan tersebut merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari proses penguraian sampah oleh magot. Pupuk organik hasil budidaya magot digunakan Thohad untuk menyuburkan berbagai tanaman. Ia menanam sejumlah tanaman, khususnya tanaman obat keluarga, di sepanjang lorong menuju rumahnya. “Pupuknya sudah dipakai, sudah menumbuhkan tanaman obat,” katanya. Menurut Thohad, siklus perkembangan magot berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar dua hari, satu ember besar dapat terisi penuh oleh magot. Apabila jumlah magot berlebih, sebagian dimanfaatkan sebagai pakan ayam ternak miliknya. Pemanfaatan tersebut dilakukan karena belum adanya saluran pemasaran magot secara rutin. “Kita berikan sebagai pakan ayam, karena belum tahu mau dijual ke mana,” jelasnya. Budidaya magot yang dijalankan Thohad adalah bagian dari program Urban Farming yang menjadi salah satu prioritas Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Program tersebut mendorong peran aktif RT dan RW dalam pengelolaan lingkungan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Thohad menambahkan, saat ini ia juga tengah merampungkan bank sampah untuk pengelolaan sampah anorganik. "SK kelompok nya sudah terbentuk, sebentar lagi kita Jalankan," ucapnya. Reporter : Makmur Editor Video : Sanovra J. R Narator : Rasni Gani (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks YouTube business inquiries: 081144407111 Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur