У нас вы можете посмотреть бесплатно Penutupan Pameran “Pangastho Aji, Laku Sultan Kedelapan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Pada akhir tahun 2025 KHP Nityabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mempersembahkan Pameran Temporer dengan judul Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan. Dalam perjalanan hidupnya, GPH Puruboyo tak pernah membayangkan akan menjadi pewaris takhta. Sebagai putra keempat dari seorang permaisuri, ia lebih banyak berkutat pada pengelolaan keuangan kerajaan serta menyalurkan minatnya di bidang seni. Namun, nasib berkata lain. Keputusan sang ayah untuk turun takhta membuka jalan baginya menuju singgasana Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII naik takhta di masa kerajaan mengalami kedamaian dan awal perkembangan industri. Di bawah kepemimpinannya, keraton mengalami kemajuan lewat berbagai inovasi—mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, perencanaan kota, layanan kesehatan, hingga pelestarian dan perkembangan seni. Semua pencapaian ini terwujud dalam sebuah persembahan yaitu Pangastho Aji. Pameran ini telah dilaksanakan sejak Sabtu, 27 September 2025 hingga Sabtu, 24 Januari 2026. Pameran ini telah dikunjungi lebih dari 260.000 pengunjung dari seluruh dunia. Dalam rangka penutupan pameran Pangastho Aji pada hari Sabtu, 24 Januari 2026 KHP Nitya Budaya mempersembahkan Bedhaya Bontit dan Beksan Gatotkaca Setija. Bedhaya Bontit Bedhaya Bontit merupakan Yasan Dalem (karya) Sultan Hamengkubuwono VIII, mengambil cerita epos Mahabharata dan menggambarkan peperangan antara Raden Permadi dengan Raden Suryatmaja di Pura Mandaraka, yang berusaha untuk mendapatkan Dewi Surtikanthi. Dalam peperangannya, kedua prajurit tersebut memiliki kekuatan yang sama, sampai keduanya kehabisan akal dan tidak ada jalan keluarnya. Tidak ada yang menang dan kalah, sehingga keduanya tampak bersatu menjadi loro-loroning atunggal. Bedhaya Bontit kali ini, ditarikan oleh sembilan paraga dengan pola lantai yang cukup unik. Ketika para penari membuat pola lantai tiga-tiga, mereka bergeser ke kanan secara bersamaan dengan gerak kengser. Kemudian kembali lagi ke posisi awal secara bersamaan juga. Hal ini sangat jarang ditemui dalam bedhaya lainnya dan hanya ada dalam Bedhaya Sinom yang menggunakan pola yang sama. Dalam pentas kali ini, bagian peperangan ini pula ditemukan hal yang cukup menarik, yakni gendhing yang digunakan adalah Gendhing Ketawang. Jarang pula ditemukan gendhing Ketawang digunakan dalam adegan peperangan untuk sebuah tarian bedhaya. Gatutkaca Setija Tarian Gatutkaca Setija ini menggambarkan peperangan Prabu setija raja di Tranutresna melawan raden Gatutkaca, satriya pringgondani. Prabu Setija ingin menguasai Kikis Tunggarana yang telah menjadi wilayah pringgondani. Gatutkaca tidak Terima wilayahnya dikuasai Setija maka terjadilah peperangan, Akhirnya Prabu Setija meninggalkan peperangan.