У нас вы можете посмотреть бесплатно Putriku Menyuruhku Berlutut Di Kaki Ibu Mertuanya—Lalu Kuucapkan 2 Kata Yang Membuat Mereka Terdiam! или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Putriku berteriak, "Bu, cepat minta maaf ke ibu mertuaku! dan cium kakinya! kalau tidak, pergi dari rumahku!" Aku menatap mata mertuanya lurus-lurus. Dia tersenyum sinis Seolah sudah menang. Aku hanya mengucapkan dua kata, lalu pergi. Seminggu kemudian, putriku mengetuk pintuku berkali-kali, depresi dan putus asa. dia sangat menyesal! Namaku Kartinah, usiaku sudah 58 tahun, orang-orang biasanya panggil aku Bu Tinah. Seumur hidupku, aku sudah cukup kenyang dan sudah terbiasa diterpa berbagai macam ujian. tak terkecuali berselisih dengan orang-orang yang paling berarti dalam hidupku, termasuk darah dagingku sendiri. Hari itu, aku duduk di ujung sofa panjang itu. Di bawah lampu gantung yang terlalu terang, ruang tamu rumah Rasti terasa seperti ruang pameran: dinding putih bersih, rak besar penuh pajangan mahal. Aroma makanan masih menggantung di udara setelah acara syukuran kecil untuk Reno tadi. Semua orang tertawa, tapi tawanya terdengar jauh di telingaku. “Bu, ambil itu sebentar.” Suara Rasti memecah lamunanku. Ia menunjuk piring kecil yang jatuh di lantai. Aku langsung bangkit. Lututku protes pelan, tapi aku pura-pura tak dengar. Aku menunduk, memungut pecahan kerupuk yang berceceran, lalu membawa piringnya ke meja. “Sudah, Bu, biar Reva saja,” kata Rama sekilas. Tapi mulutnya sibuk mengunyah makanan. Ia tidak benar-benar peduli, hanya formalitas. Reva berdiri di samping pintu, memeluk Reno yang mulai mengantuk. Gadis itu melirikku, matanya sebentar saja menyiratkan kasihan. Di kursi paling empuk, Sartika duduk seperti ratu, kebaya bermotif emas, kalung berlapis, bibirnya merah tebal. Ia meneguk teh pelan, lalu keras-keras. “Capek juga, ya. Kalau tiap ada acara keluarga, saya harus lihat orang kampung masuk rumah begini,” katanya seolah bicara pada dirinya sendiri, tapi suaranya cukup jelas untuk semua orang. Aku berpura-pura tidak dengar. Sudah sering sejak aku pindah ke rumah Rasti setahun lalu, kalimat-kalimat seperti itu jadi bumbu harian. “Mah?” Rasti menghela napas kecil, tapi bukan untuk membelaku. Ia malah tersenyum canggung. “Maksudnya siapa sih?” tanyanya, pura-pura lugu. Sartika memandangku dari ujung rambut sampai ujung sandal. “Ya, siapa lagi Rasti? Ibu mertua kamu, dong, Kartinah. Maaf ya, Bu. Saya jujur orangnya. Bukan apa-apa, lho. Cuma, ya, bajunya itu, lho. Ini kan rumah kompleks, bukan kampung. Masa pakai daster belel terus.” Beberapa saudara Rama terkekeh pelan. Dadaku sesak. Aku menatap daster bunga-bunga yang kupakai. Bukan daster baru, tapi bersih, harum sabun. Tanganku refleks meremas ujung kainnya. “Aku cuma biasa begitu, Bu,” kataku pelan. “Yang penting rapi dan bersih.” Sartika tertawa pendek. “Rapi kata siapa? Rasti, kamu ini istri pengusaha. Masa ibumu masih kelihatan kayak pembantu? Tamu tadi lihat, lho, nanti dikira kamu enggak bisa mengurus orang tua.” Rasti langsung menegakkan bahu seakan tersentak. Ia memang paling takut soal omongan orang. “Mama, ngomongnya jangan gitu juga dong,” katanya. Tapi suaranya lebih terdengar seperti menyalahkanku. “Bu, kan aku sudah bilang kalau di rumah pakai baju yang agak pantas sedikit.” Aku menelan ludah. “Ini baju paling bagus punyaku, Ras,” jawabku jujur. “Yang lain sudah lusuh.” Sunyi sebentar. Lalu Sartika mendengus. “Ya, itu dia. Makanya kalau dari dulu kerja yang benar, jangan cuma jahit kecil-kecilan. Jualan kue di gang. Anakmu ini kan jadi malu sekarang.” Ucapan itu seperti pisau. Bertahun-tahun aku menjahit sampai larut malam. Menjual kue pagi-pagi buta hanya untuk menyekolahkan Rasti, untuk membelikan seragamnya, bukunya, sampai biaya kuliah. Tiba-tiba semua dianggap tidak benar. Reva memeluk Reno lebih erat. Bocah itu menatapku dengan mata mengantuk. “Nek, Reno ngantuk,” bisiknya. Aku tersenyum pada Reno, mencoba menahan air mata. “Sebentar, ya, sayang. Habis ini Nenek gendong.” Sartika kembali bicara. Kali ini lebih keras. “Rama, kamu tuh kebanyakan baik. Ibu mertua dibiarkan seenaknya di rumah. Menginap lama, makan, listrik, air. Semua kalian yang bayar. Ada untungnya apa? Dia kasih apa ke kamu?” Aku menoleh ke Rasti, menantikan ia menjawab, “Ibu saya yang bantu pernikahan kita,” atau, “Ibu saya yang jaga anak-anak.” Tapi Rasti hanya memandang ke arah lain. Rahangnya mengeras. Rama menggaruk kepala yang tidak gatal. “Sudahlah, Mah, jangan dibahas di depan orang.” 🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain. 📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi. ⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun. 🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru. #kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga Cerita Hati Lansia