У нас вы можете посмотреть бесплатно Di Solo Saja: Menolak Watimpres, Jokowi Memilih Menjauh dari Lingkar Kekuasaan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Tulisan Wartawan TribunSolo.com Fikri Febriyanto TRIBUSOLO.COM - Di tengah riuh spekulasi politik nasional dan bayang-bayang kekuasaan yang belum sepenuhnya menjauh, Joko Widodo justru memilih arah sebaliknya. Ia kembali ke Surakarta bukan sebagai presiden, bukan pula sebagai tokoh yang mengejar posisi baru, melainkan sebagai warga biasa yang ingin menikmati jeda setelah satu dekade berada di pusat kekuasaan. Di saat banyak mantan pemimpin tetap berada di lingkar pengaruh, Jokowi memberi isyarat berbeda. Dengan menepis wacana keterlibatannya dalam pemerintahan Prabowo Subianto, ia seolah menegaskan bahwa tidak semua perjalanan politik harus berlanjut di panggung yang sama. Ada yang memilih tetap berdiri di bawah sorot lampu, dan ada pula yang memilih pulang—ke rumah, ke kota asal, dan ke kehidupan yang lebih sunyi dari gemuruh kekuasaan. “Nggak lah, saya di Solo saja,” ujarnya ringan, disertai tawa kecil. Kalimat itu sederhana. Namun di tengah dinamika politik nasional, maknanya terasa panjang. Beberapa waktu terakhir, namanya kembali disebut-sebut. Ada wacana ia masuk Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) di era pemerintahan Prabowo Subianto. Spekulasi berkembang, tafsir bermunculan. Tapi Jokowi menepisnya. Ia mengaku sudah menyampaikan langsung kepada Prabowo bahwa dirinya ingin menikmati hari-hari di Solo. Tak banyak yang ia ungkap soal pembicaraan itu. Saat ditanya kapan dan di mana percakapan terjadi, ia kembali mengulang kalimat yang sama, seolah menjadi penegasan sikap sekaligus penutup diskusi: “Saya di Solo saja.” Pilihan itu kontras dengan riuh politik yang terus bergerak. Di hari yang sama, Ketua Umum Bara JP, Willem Frans Ansanay, datang bersilaturahmi. Relawan yang pernah menjadi barisan pendukung setianya itu berdiskusi soal konsolidasi dan arah politik ke depan. Termasuk wacana yang mulai mengemuka: Pilpres 2029. Nama-nama mulai diperbincangkan. Ada skenario Prabowo–Zulhas. Ada pula keyakinan sebagian relawan terhadap duet Prabowo–Gibran Rakabuming Raka dua periode. Jokowi sendiri sebelumnya telah menyampaikan sikapnya. “Prabowo-Gibran dua periode,” katanya dalam wawancara akhir Januari lalu. Namun kini, sorot matanya tak lagi seperti kepala negara yang tengah memimpin. Ia lebih banyak tersenyum, lebih singkat menjawab. Seakan ingin memberi pesan: panggung sudah berpindah. Di Solo, ia bukan lagi pejabat pemerintahan. Ia adalah mantan presiden yang memilih kembali ke titik awal—ke kota yang membesarkan namanya sebelum melangkah ke Balai Kota, ke DKI, hingga ke Istana. Di tengah arus spekulasi dan perhitungan politik 2029, Jokowi seperti menegaskan satu hal: tak semua mantan penguasa ingin tetap berada di lingkar kekuasaan. Sebagian memilih tetap bermain di panggung. Sebagian lain memilih duduk di beranda rumah, menikmati sore di Kota Bengawan. Dan untuk saat ini, Jokowi memilih yang kedua.