У нас вы можете посмотреть бесплатно Apa Rakyat Bisa Salah : Bedah Buku Terbaru Martin Suryajaya или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Demokrasi, Pengetahuan, dan Infratariat: Bedah Buku Martin Suryajaya oleh IKAD Rabu malam, 10 September 2025. Di layar Zoom, sekitar delapan puluh wajah muncul bergantian. Alumni STF Driyarkara dan para penggemar filsafat menyimak serius dalam gelaran bedah buku yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD). Buku terbaru alumni STF, Martin Suryajaya dikupas habis. Acara dipandu jurnalis senior Ignatius Haryanto. “Buku filsafat seperti ini memang harus diuji, bukan hanya dipuji,” ujarnya membuka forum. Martin, filsuf muda yang kerap memantik debat publik, menulis buku ini hanya dalam waktu sekitar sebulan. Berbeda dari karyanya sebelumnya yang tebal dan historis, kali ini ia menyusun gagasan dalam format “sketsa” — rangkaian proposisi sistematis yang langsung menghidangkan “main course” argument. Judulnya menggugat: “Apa Rakyat Bisa Salah; Masalah Epistemik Demokrasi dan Solusinya?” Sebuah refleksi atas demokrasi yang menjadikan suara rakyat sebagai ukuran kebenaran politik. “Kalau rakyat bisa salah, bagaimana kita menemukan kebenaran bersama?” tanya Martin dalam pemaparannya. Dari sinilah ia memeriksa masalah pengetahuan politik: demokrasi bukan hanya mekanisme suara, melainkan sistem penentuan kebenaran bersama dalam kehidupan kolektif. Martin mengusulkan konsep “infratariat” — lapisan masyarakat paling tereksploitasi — sebagai sumber daya kognitif yang justru paling dekat dengan realitas sosial. Ia juga memperkenalkan gagasan “infrakrasi” dan bentuk-bentuk baru perwakilan politik seperti “datakrasi” untuk mengekstrak kebenaran bersama, bukan sekadar agregasi preferensi individu. Semua ini, kata Martin, terinspirasi dari konteks demonstrasi-demonstrasi terkini yang menunjukkan rapuhnya tatanan demokrasi Indonesia.