У нас вы можете посмотреть бесплатно ORANG TERLALU GAMAPANG VONIS KITA GAGAL, TAPI BEGINI UNTUK MEMBANTAH UCAPAN MEREKA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
KENAPA KITA CEPAT SEKALI MENYEBUT ORANG GAGAL Ada satu kalimat yang terlalu mudah keluar dari mulut kita. “Dia gagal.” Pendek. Rapi. Seolah semuanya bisa diringkas dalam satu kata. Kita mengucapkannya sambil duduk. Sambil minum kopi. Sambil scrolling. Tanpa benar-benar berhenti untuk bertanya: gagal dari apa, dan gagal di kondisi yang seperti apa? Kadang kita bahkan tidak mengenal orangnya. Tidak tahu pagi-paginya. Tidak tahu malam-malamnya. Tidak tahu apa yang dia bawa pulang ke rumah selain lelah. Tapi tetap saja, kata itu terasa ringan di lidah kita. “Gagal.” Mungkin karena sejak lama kita diajari melihat hidup seperti lomba. Siapa cepat, dia benar. Siapa tertinggal, dia salah. Dan tanpa sadar, kita mulai percaya: kalau seseorang tidak sampai, pasti ada yang kurang dari dirinya. Kurang pintar. Kurang rajin. Kurang niat. Jarang sekali kita bertanya: siapa yang berdiri di belakangnya saat dia mencoba? Karena dukungan itu tidak kelihatan. Tidak bisa dipamerkan. Tidak bisa diukur dengan angka. Yang kelihatan cuma hasil. Yang kelihatan cuma pencapaian. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu. Ada orang yang jatuh bukan karena dia malas, tapi karena tidak ada yang menangkap saat dia terpeleset pertama kali. Ada orang yang berhenti bukan karena dia bodoh, tapi karena terlalu lama berjalan sendirian. Dan anehnya, kita jarang membicarakan itu. Kita lebih nyaman menyalahkan individu daripada mengakui bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Karena kalau kita mengakui itu, kita harus mengakui sesuatu yang lebih tidak nyaman: bahwa keberhasilan kita sendiri mungkin tidak sepenuhnya hasil kehebatan kita. Bahwa mungkin ada tangan-tangan yang dulu menopang saat kita hampir jatuh. Bahwa mungkin ada suara yang berkata “lanjutkan” saat kita ingin menyerah. Dan tidak semua orang pernah mendengar suara itu. Kita hidup di dunia yang memuja hasil tapi pelit memberi penopang. Kita cepat kagum pada yang sampai, tapi cepat lupa pada yang gugur di tengah jalan. Padahal, kalau kita jujur sebentar saja, kita tahu: berjalan sendirian itu menguras lebih banyak tenaga daripada berjalan pelan tapi ditemani. Dan mungkin… kata “gagal” itu sendiri bukan penilaian yang adil, melainkan cara cepat untuk menutup rasa bersalah kita karena tidak ikut membantu. Kita menyebut orang gagal agar tidak perlu bertanya lebih jauh. Agar tidak perlu melihat bahwa di balik kegagalan itu ada kekosongan yang bernama tidak pernah didukung. Dan dari sini, pelan-pelan, pertanyaan yang lebih berat mulai muncul… selamat datang di lamtama mardongan jangan lupa untuk berukan like, komen, dans subcribe 🔖 Hashtags #FilsafatHidup #HidupStoik #BijakStoik #KetenanganHati #HidupTenang #BelajarStoik #FilsafatStoik #MotivasiStoik #JalanStoik #StoikIndonesia #Stoic #Stoicism #DailyStoic #MarcusAurelius #Seneca #Epictetus #StoicWisdom #StoicMindset #Philosophy #StoicQuotes #Stoik #FilsafatStoik #Produktivitas #SelfGrowth #MotivasiHidup