У нас вы можете посмотреть бесплатно Jadi Guru Besar di Usia 39 Tahun, Kisah Syukri Albani dari Pesantren ke Puncak Akademik или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Lahir di Medan, 6 Juli 1984. Syukri Albani pernah mengeyam pendidikan dasar di satu SD di Kota Medan. Setelah itu menyambung ke Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Setelah itu, Syukri Albani melanjutkan pendidikan S1 hingga S3 di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri - UIN) Sumatera Utara di Medan. Syukri kemudian mengajar di almamaternya, dan kini didapuk sebagai guru besar di Fakultas Syari'ah dan Hukum dari UIN Sumatera Utara. Syukri Albani Nasution dikukuhkan sebagai guru besar termuda Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tahun 2023, di usia 38 tahun 9 bulan. Berbeda dari dosen atau guru besar pada umumnya yang menyampaikan dakwah atau ceramah dengan narasi tentang konsep atau narasi besar, Syukri Albani justru menyampaikan dakwah secara lebih membumi. Ceramah-ceramahnya selalu berangkat atau didasarkan pada kisah-kisah kehidupan yang bisa dialami oleh siapa pun dalam kehidupan keseharian. Lewat kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami, Syukri mengajak memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mulai dari memperbaiki diri dari cara berpikir supaya positif kepada Allah, menjaga pikiran agar selalu positif tidak dikuasai oleh energi negatif, hingga sejumlah pesan untuk melakukan amalan kebaikan di dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal di akhirat. "Seorang dai, seorang pendakwah, bukan hanya tentang menyenangkan telinga orang yang mendengarnya. Kalau menyampaikan yang enak-enak saja, itu namanya penghibur. Dakwah itu ada tanggung jawabnya di hadapan Allah," katanya. Seorang pendakwah, sebutnya, harus punya sikap dalam menyampaikan dakwah. Harus punya kemapanan sikap, yakni keteladanan dan karenanya menjadi aspirasi bagi banyak orang. “Jika ada sesuatu yang bisa kita lakukan dan memberi keterpengaruhan positif kepada banyak orang, berarti kita secara tidak langsung ikut memproduksi kebaikan dalam kehidupan ini,” ujarnya. (tribun-video.com) Program: Cerita Para Kiai Editor Video: dharma aji yudhaningrat Host: Aisyah Sumardi