У нас вы можете посмотреть бесплатно Kisah K.H. Shodiqul Amin : Sepeda Onthel, Pepatah Jawa, dan Ponpes Darul Islah или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM – "Kowe mondok ora usah kepingin dadi opo-opo. Angger kowe mondok sing tenanan, kowe bakal dadi opo-opo" (Kamu sekolah di pesantren tidak usah ingin jadi apa-apa. Asalkan kamu pesantren dengan sungguh-sungguh, kamu akan menjadi sesuatu). Pepatah Jawa itulah yang menjadi pegangan teguh KH Shodiqul Amin dalam meniti jalan pengabdiannya. Sosok yang kini mengemban amanah sebagai Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung masa khidmat 2023-2028 ini, memiliki kisah hidup yang penuh perjuangan. Dari seorang anak yatim yang berjualan es keliling menggunakan sepeda onthel, ia kini berhasil mendirikan Pondok Pesantren Darul Ishlah di Kabupaten Tulang BBawang Lahir di Kliteh, Jawa Tengah pada 28 Juni 1962, Kyai Shodiq adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ujian hidup datang lebih awal saat ia harus kehilangan sang ayah di usia sembilan tahun, tepat ketika ia masih duduk di bangku kelas tiga SD. Kondisi ekonomi yang sulit membawanya hijrah ke Sukorejo, Banyuwangi, bersama adik bungsunya. Tanpa didampingi orang dewasa, kedua bocah ini nekat menaiki bus demi menyambung hidup di rumah sang kakak. Demi biaya sekolah dan kebutuhan hidup, Kyai Shodiq kecil bekerja keras. Berbekal sepeda onthel pemberian kakaknya, ia melakoni berbagai pekerjaan: mulai dari mencari sekam, mengambil kayu di hutan, hingga berjualan es keliling kampung dengan jarak tempuh puluhan kilometer setiap hari. "Pagi jam enam sampai setengah sembilan saya ngaji. Jam sembilan sampai jam 12 saya kerja jual es keliling. Nanti habis Dzuhur, saya sudah sekolah di MTs," kenangnya. Uniknya, kesibukan bekerja tidak menyurutkan semangat belajarnya. Agar tetap bisa menghafal nadhom (bait syair ilmu agama), ia menuliskan hafalan tersebut di kertas tebal lalu menempelkannya di jepitan rem sepeda onthelnya. Sambil mengayuh sepeda menjajakan es, lisan dan pikirannya tak henti melantunkan bait-bait ilmu. Setelah menamatkan pendidikan di berbagai pesantren di Banyuwangi seperti Darussalam Blokagung dan Darul Abror, ia hijrah ke Lampung pasca menikah dengan Hj. Siti Qomariah pada tahun 1990. Perjalanan dakwahnya di Tulang Bawang bermula di Simpang 5, Desa Purwajaya, Banjar Margo pada tahun 1999. Kala itu, ia hanya memiliki tiga orang santri yang setia mengikuti kepindahannya dari Unit Tiga. Ia pun mengawali pembangunan pesantren di atas tanah hibah yang awalnya hanya berupa musala kayu kecil berukuran 8 \times 6 meter persegi. Kini, kerja keras dan keistiqomahannya membuahkan hasil. Pondok Pesantren Darul Ishlah telah berkembang pesat di atas lahan seluas sembilan hektare. Di bawah asuhannya, pesantren ini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menyediakan pendidikan formal lengkap mulai jenjang TK hingga Perguruan Tinggi. Pertama, SMP Darul Ishlah & TK Darul Ishlah (Berdiri 2006). Madrasah Aliyah Darul Ishlah (Berdiri 2012). SD Alquran Darul Ishlah (Berdiri 2014). SMK Hasyim Ashari (Berdiri 2016). Serta STIT Darul Ishlah (Berdiri 2020). Di mata keluarga dan santrinya, Kyai Shodiq dikenal sebagai sosok yang sangat sabar dan telaten. Putra menantunya, Gus Thohir, menyebutnya sebagai panutan yang penuh keteguhan dalam membimbing. "Di samping sebagai pengasuh Pondok Pesantren, sekaligus Rois Syuriyah PWNU Lampung, di mata kami sebagai anak-anak, beliau adalah sosok panutan. Sosok yang penuh dengan kesabaran, keteguhan, serta keistiqomahan dalam membimbing putra putrinya sekaligus para santri," ujar Gus Thohir. Meski kini disibukkan dengan agenda organisasi di PWNU Lampung, sang Kyai tetap menyempatkan diri mengajar santri secara langsung. Ia memegang prinsip mempertahankan metode lama yang baik (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih) seperti sistem sorokan dan bandongan, namun tetap terbuka pada metode pendidikan modern yang relevan dengan zaman. "Saya yakin dengan mukjizat Alquran, itu bisa mengalahkan semua yang ada," pungkas sang Kyai. Biodata Singkat: Nama: KH Shodiqul Amin Lahir: Kliteh, Jawa Tengah, 28 Juni 1962 Jabatan: Pengasuh Ponpes Darul Ishlah & Rois Syuriah PWNU Lampung (2023-2028) Istri: Hj. Siti Qomariah Anak: 5 Orang Riwayat Pendidikan: MTs Al Huda Banyuwangi Ponpes Darussalam Blokagung Ponpes Darul Abror Sukorejo (tribun-video.com) Program: Cerita Para Kiai Editor Video: dharma aji yudhaningrat Host: Hurri Agusto