У нас вы можете посмотреть бесплатно EMPAT MALAIKAT, EMPAT CAHAYA RASA Risalah Batin Perjalanan Insan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
EMPAT MALAIKAT, EMPAT CAHAYA RASA Risalah Batin Perjalanan Insan #BANI313 #WTQ313 Pada mulanya bukan langit yang bicara, melainkan hati yang dipanggil pulang. Sebab segala yang tampak di atas sana sebenarnya bersemi di dalam diri manusia. Empat malaikat disebut dalam kitab, namun arif membacanya sebagai cahaya rasa, sebab Allah tak butuh arah dan tempat, dan tanda-tanda-Nya ditanam di dada insan. Jibril berdiri di gerbang kesadaran, membawa Kalam tanpa huruf dan suara. Ia bukan sekadar pembawa wahyu para nabi, ia juga penjaga lurusnya akal dan niat. Setiap ilham yang memanggil kepada benar, setiap kegelisahan saat menyimpang dari hak, itulah Jibril yang mengetuk pintu qalbu. Ia adalah Jalāl yang menegakkan, menyambar kesadaran tanpa basa-basi. Cahayanya bukan untuk membelai, melainkan untuk membangunkan. Dalam diri insan, Jibril bernama sadar akan hukum Tuhan, yang memisahkan halal dari syubhat, benar dari yang tampak indah tapi menipu. Lalu Mika’il turun sebagai kesejukan, tanpa dentum, tanpa perintah keras. Ia hadir sebagai aliran rahmat, menyentuh jiwa yang kelelahan berjuang. Dialah Jamāl—keindahan yang menenteramkan, rezeki yang datang tepat pada waktunya, cukup yang terasa lapang di dada. Dalam batin manusia, Mika’il adalah ridha, ia mengajarkan menerima tanpa menyerah, berusaha tanpa tamak, bersyukur tanpa menghitung. Ia membuat hati tahu, bahwa rahmat Allah tak selalu berupa kelimpahan, kadang berupa kekuatan untuk merasa cukup. Jalāl dan Jamāl bukan dua kutub terpisah, keduanya berpelukan dalam satu kehendak. Tegas tanpa bengis, lembut tanpa lalai. Siapa hanya mengambil satu, akan pincang dalam perjalanan. Kemudian datang Izro’il, yang paling sering disalahpahami. Ia ditakuti karena tugasnya memutus, padahal ia hanya menunaikan amanah. Ia Qohār—kekuasaan yang meluruhkan sandaran, yang merobohkan segala tempat bergantung selain Allah. Bagi yang terpaut pada dunia, Izro’il adalah kegelapan. Namun bagi yang telah berlatih lepas, ia adalah pembebasan. Dalam batin, Izro’il bernama fana, ia mematikan nafsu yang ingin dipuja, ia mematahkan ego yang ingin diakui. Siapa yang mati sebelum mati, tak akan terkejut saat mati datang. Siapa telah kehilangan “aku”, akan menemukan Dia. Setelah hening yang panjang, datanglah Isrofil dengan diamnya yang berat. Sangkakalanya bukan hanya tanda kiamat alam, ia adalah kebangkitan kesadaran. Ia Kamāl—penyempurna perjalanan, yang menutup lingkaran dan membuka rahasia. Dalam diri insan, Isrofil adalah kesadaran akhir, yang meniupkan hidup baru setelah hancur. Saat semua identitas runtuh, saat tak tersisa nama dan peran, Isrofil membangunkan ruh untuk menyaksikan Yang Maha Ada. Di maqām ini, tak ada lagi pertanyaan “siapa aku”, sebab yang bertanya telah lenyap. Yang ada hanya penyaksian, tanpa jarak, tanpa arah. Empat malaikat bukan penjuru langit, mereka adalah tahapan perjalanan. Syari’at menata langkah lahir, Tariqat membersihkan niat, Hakikat membuka tabir, Makrifat menghapus jarak. Jibril menjaga lurusnya hukum, Mika’il menumbuhkan kasih dalam amal. Izro’il meluruhkan kepemilikan diri, Isrofil membangkitkan hidup sejati. Mereka bekerja dalam setiap nafas, dalam sadar dan lupa, dalam jatuh dan bangun. Tak pernah jauh, tak pernah meninggalkan. Ketika Jalāl dan Jamāl seimbang, Qohār dan Kamāl pun berpelukan. Insan berjalan tanpa beban nama, tanpa takut hilang, tanpa ingin dikenal. Pada maqām diam, semua telah terucap. Pada maqām hening, semua telah nyata. Malaikat kembali pada fungsinya, sifat kembali pada asalnya. Yang tinggal hanya Tauhid murni, tanpa pembagi, tanpa sekutu. Di sana tak ada awal dan akhir, tak ada hidup, tak ada mati. Yang ada hanya Nur yang menyebut Diri-Nya dengan Diri-Nya, dan disaksikan oleh Diri-Nya sendiri.