У нас вы можете посмотреть бесплатно Aku Berhenti Jadi Orang Baik yang Selalu Menyenangkan Orang или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
IGELATIK adalah channel self improvement yang membahas cara upgrade diri lewat kebiasaan kecil, mindset, dan produktivitas. Dapatkan tips disiplin, motivasi, manajemen waktu, dan rutinitas harian untuk jadi versi terbaik dirimu—lebih fokus, lebih konsisten, dan lebih percaya diri. Pernah nggak kamu ngerasa hidup kamu capek… tapi bukan karena kerjaan doang? Capeknya itu karena kamu selalu jadi orang yang “ngerti”. Selalu jadi yang mengalah. Selalu jadi yang menenangkan. Selalu jadi yang bilang “iya” walau hati kamu sebenarnya udah penuh. Kalau kamu klik video ini, kemungkinan besar kamu juga pernah ada di fase capek jadi orang baik. Dan ini bukan masalah kecil. Ini realita sosial yang banyak banget orang Indonesia alami—tapi jarang dibahas dengan jujur. Apalagi di budaya kita, “nggak enakan” sering dianggap sopan. “Nolak” dianggap jahat. “Mikirin diri sendiri” dianggap egois. Akhirnya banyak orang tumbuh jadi kuat di luar… tapi habis di dalam. Di IGELATIK, kita nggak akan kasih kamu toxic positivity. Kita nggak akan bilang “ya udah ikhlasin aja” atau “ya udah sabar aja”. Kita akan bahas ini sebagai edukasi mental dan edukasi psikologi: kenapa kamu sulit bilang tidak, kenapa kamu merasa bersalah saat pasang batas, dan gimana cara berhenti jadi people pleaser tanpa berubah jadi orang dingin. Karena jujur… “orang baik” itu bagus. Tapi “orang baik yang tidak punya batas” sering jadi sasaran yang paling gampang dipakai. Di video ini, kita akan bahas tiga hal besar: Realita sosial kenapa topik ini banyak dicari. Penjelasan psikologi: kenapa kamu jadi over-giving. Cara praktis pasang batas yang tegas tapi tetap manusiawi. Timestamp: 00:00 – “Kok gue capek banget ya?” 01:40 – Realita sosial: budaya nggak enakan 04:00 – Bedanya baik vs people pleaser 06:20 – Akar psikologis: validasi & takut konflik 09:00 – Tanda kamu over-giving (dan mulai habis) 11:00 – Cara pasang batas tanpa drama 14:00 – Kalimat batas yang bisa dipakai 16:30 – Kalau mereka marah, artinya apa? 18:00 – Penutup: tetap baik, tapi nggak murah Sekarang kita mulai dari realita sosialnya dulu. Banyak orang jadi “orang baik yang lelah” karena lingkungan mengajarkan satu hal: diterima = menyenangkan orang lain. Dari kecil, kita dipuji saat nurut. Kita dianggap dewasa saat mengalah. Kita merasa cinta itu harus dibayar dengan pengorbanan. Lama-lama otak kita mengaitkan harga diri dengan seberapa bergunanya kita buat orang. Itulah kenapa ketika kamu berhenti membantu, kamu merasa bersalah. Padahal kamu cuma lelah. Dari sisi psikologi, ini sering berkaitan dengan dua hal: kebutuhan validasi dan ketakutan konflik. Kamu takut dibilang jahat, takut mengecewakan, takut ditinggalkan, takut dianggap “berubah”. Maka kamu memilih mengalah—meski tubuhmu protes. Tapi masalahnya: mengalah terus itu bukan cinta. Itu kebiasaan menyakiti diri secara halus. Dan di titik tertentu, kamu mulai “bocor”: jadi sensitif, cepat tersinggung, gampang lelah, menarik diri, atau tiba-tiba meledak karena selama ini terlalu menahan. Banyak orang mengira itu “kamu jadi pemarah”. Padahal yang terjadi: kamu sudah terlalu lama tidak punya batas. Bagian praktisnya: kita akan belajar membedakan antara baik dan people pleaser. Orang baik membantu karena mampu dan memilih. People pleaser membantu karena takut. Orang baik bisa bilang tidak tanpa merasa berdosa. People pleaser bilang iya, lalu menyimpan marah dan kecewa di belakang. Lalu kita masuk ke inti: boundaries itu bukan tembok, boundaries itu pagar. Kamu tetap bisa sayang orang, tapi kamu juga punya ruang aman untuk diri sendiri. Kamu tidak sedang memusuhi siapa pun saat kamu bilang: “gue nggak sanggup.” Di video ini kamu akan dapat kalimat-kalimat batas yang tegas tapi hangat, contoh situasi sehari-hari (teman, keluarga, kerja, pasangan), dan cara mengelola rasa bersalah yang biasanya muncul saat kamu mulai berubah. Karena rasa bersalah itu wajar—kamu sedang membangun otot baru: otot batas diri. Dan satu hal penting: ketika kamu mulai pasang batas, akan ada orang yang protes. Bukan karena kamu salah, tapi karena mereka kehilangan akses. Ini pahit, tapi sering benar. Jadi kita juga akan bahas cara membaca reaksi orang lain: siapa yang sehat, siapa yang hanya nyaman saat kamu bisa dipakai. Kalau kamu sudah capek jadi orang baik yang selalu menyenangkan orang, video ini buat kamu. Kamu tetap bisa baik—tapi tidak perlu murah. Kalau kamu relate, tulis di komentar: “Aku belajar bilang tidak.” Like dan subscribe IGELATIK untuk konten mental, emosi, dan kehidupan sehari-hari yang realistis. Share video ini ke satu orang yang kamu tahu terlalu sering mengalah sampai habis.