У нас вы можете посмотреть бесплатно CANANG YASA DAN CANANG MERAKA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
• CANANG YASA DAN CANANG MERAKA CANANG YASA DAN CANANG MERAKA #CanangYasa #CanangMeraka #Upakara Dalam agama Hindu di Indonesia, dikenal istilah tri kerangka agama yaitu tattwa, Susila, dan upacara. Bahwa agama itu tidak hanya bicara mengenai tattwa (kebenaran dan keyakinan), tetapi juga melaksanakan semua yang diyakininya itu lewat laku suci dan beretika, serta upacara. Itu sebabnya agama tidak disebut dengan tindakan disiplin dan sistematis dan malahan disebut dengan praktek yoga. Trilogi itu dalam istilah Hindu secara umum disebut dengan Satyam, Siwam, Sundaram. Berbicara mengenai upacara, di dalamnya terdapat pemimpin upacara (Pinandita dan Pandito), waktu pelaksanaan upacara, tempat upacara, dan perlengkapan upacara (sarana). Berbicara mengenai peralatan upacara di dalamnya terdapat banten (upakara). Salah satu unsur kecil dalam banten adalah canang. Pada beberapa konten sebelumnya telah dibahas mengenai Canang Genten dan Canang Sari, berikutnya dibahas tentang Canang Buratwangi dan Tadah Sukla. Pada konten kali ini akan dibahas mengenai Canang Yasa dan Canang Meraka. Canang Yasa berdasarkan asal katanya yasa, artinya usaha, persembahan dan sejenisnya. Maksudnya tiada lain, sebagai usaha untuk menyucikan mulut kita, terutama kalau dilihat dari unsur-unsur yang dipersembahkan dalam Canang Yasa, yaitu daun sirih, pamor, buah, gambir. Keempatnya dalam kebudayaan Nusantara dimanfaatkan untuk sarana pencuci mulut. Canang Yasa, unsur utamanya daun sirih, pamor, buah, gambir, dan mako disamping beras yang berfungsi (yang biasanya digunakan sebagai bahan Bija) yang memiliki makna agar pikiran yang liar dapat dikendalikan serta buratwangi yang bertujuan agar tubuh kita wangi. Cara membuatnya dapat diilustrasikan sebagai berikut. Canang Yasa ini terdiri dari dua bagian yang terbuat dari ceper ataupun taledan. Pada ceper pertama berisi 4 buah kojong, masing masing berisi pamor, gambir, buah dan mako, di atas kojong ditambahkan dua lembar daun sirih lalu di atasnya disusuni ceper yang kedua. Pada ceper kedua dilengkapi dengan dua buah celemik yang masing masing berisi, minyak wangi dan beras putih ataupun kuning, baru di bagian atas celemik ditambahkan bunga bunga yang harum. Canang yasa ini biasanya digunakan di atas nasi yasa dan rantasan, logikanya orang habis makan akan membesihkan mulut dan giginya, jaman dahulu mulut dan gigi dibersihkan dengan nginang atau memakan sirih. Canang Yasa akan berubah nama dan fungsinya ketika Canang Yasa diisi rokok dan lekesan, dan bagian atasnya diganti dengan Wurassari, maka akan berubah namanya menjadi Canang Pengerawos sebuah canang yang digunakan saat memulai pembicaraan, misalnya saat meminang antara pihak purusa dengan pihak predana, memulai rapat adat di banjar, dan memulai pembicaraan khusus dalam keluarga. Canang Pengerawos ini biasanya dibuat dalam bentuk yang besar. Jika dalam pembicaraan tersebut terjadi kesepakatan, biasanya juga dilanjutkan dengan memakan sirih yang ada dalam unsur-unsur Canang Yasa tadi. Jadi usnur dan tata letak menentukan nama canang, fungsi dan maknanya. Lalu apa itu Canang Meraka ? Sesuai namanya, canang Meraka ini mengambil unsur raka (jajan) Bali. Jajan yang harus diisi dalam Canang Meraka adalah Jaja Begina dan Jaja Uli. Jajan lainnya sebagai tambahan seperti bolu misalnya dapat diisi, namun tanpa mengurangi unsur utamanya yakni Jaja Begina dan Jaja Uli itu sendiri disamping bantal tape dan pisang. Semua unsur itu (bantal tape, pisang, jaja begina, dan jaje uli), harus ada karena symbol dari purusa Vs predana, perpaduannya akan menjadi simbol energi. Keempat unsur itu pula symbol Tri Muri, bantal tape sebagai representasi Dewa Brahma, tebu dan pisang unsur air, yaitu representasi Dewa Wisnu, dan Jaja Gina dan Jaja Uli, mengandung unsur angin, representasi dari Dewa Siwa. Dengan demikian, keempat unsur itu adalah simbolisasi pengagungan terhada Tri Murti. Setelah berisi empat unsur, lalu di atasnya diisi canang genteng dan atau Wurassari, maka saran ini disebut Canang Meraka sebagai bentuk paling kecil dari Gebogan atau Gebogan Minimalis. Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu. Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe https://www.youtube.com/channel/UCB5R Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna Instagram: / yudhatrigunachannel Website: https://www.yudhatriguna.com