У нас вы можете посмотреть бесплатно Masjid Al Fatih Kepatihan, Bukti Cinta sang Raja kepada Istri или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Di balik hiruk pikuk lalu lintas pusat Kota Surakarta, tepatnya di kawasan Kepatihan, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan jejak sejarah panjang Keraton Kasunanan. Namanya Masjid Al Fatih Kepatihan, sebuah bangunan yang sekilas tampak modern di bagian depan, namun menyimpan kisah masa silam yang kuat di ruang bagian dalamnya. Jejak Keraton di Tengah Kota Masjid yang beralamat di Jalan Kepatihan No 5, Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres ini berada di lokasi strategis, tak jauh dari pusat pemerintahan. Letaknya yang berada di jantung kota membuatnya mudah dijangkau, namun tak banyak orang mengetahui bahwa bangunan ini merupakan peninggalan penting Keraton Kasunanan Surakarta. Tahun pendirian masjid tercantum jelas di pintu utama bagian tengah: 1312 Hijriah. Angka itu menandai berdirinya bangunan yang proses pembangunannya hampir bersamaan dengan kawasan Ndalem Kepatihan atau Kampung Kepatihan. Menurut penuturan pengurus masjid, Prof HM Sholahuddin, M Si, Ph D, CSBA, pada masa Agresi Militer II tahun 1948, kawasan tersebut sempat dibumihanguskan oleh rakyat agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Namun, di tengah situasi genting itu, masjid tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan berarti, seolah menjadi saksi bisu keteguhan iman dan perjuangan masyarakat setempat. Kisah Cinta Seorang Raja Masjid ini kerap dijuluki sebagai masjid “mahar lamaran raja”. Julukan tersebut tak lepas dari kisah asmara Sri Susuhunan Pakubuwono X, raja Keraton Solo yang memerintah pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Namun, kata Prof HM Sholahuddin, Masjid Al Fatih hadiah dari raja kepada permaisurinya. Tapi, warga lebih menjulukinya sebagai “Masjid Mahar Raja”. Perbedaan istilah itu bukan tanpa makna. “Mahar bersifat personal dan tidak dapat dimiliki bersama, sedangkan hadiah dari raja dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat, sebagaimana masjid ini yang sejak awal memang diperuntukkan bagi masyarakat luas,” ujarnya saat ditemui di masjid tersebut pada Kamis (12/2/2026) . Arsitektur Jawa yang Sarat Makna Memasuki bagian dalam masjid, nuansa Keraton begitu terasa. Empat saka guru dari kayu jati berdiri kokoh menopang bangunan utama, ciri khas arsitektur Jawa yang sarat filosofi. Warna biru yang mendominasi dinding dan mimbar merupakan warna asli, menghadirkan kesan teduh sekaligus anggun. Di bagian depan, terdapat tiga pintu masuk dengan ukiran kaligrafi indah. Pada pintu utama tertera lafaz Allah dan Muhammad beserta penanda tahun pembangunan. Sementara itu, pada pintu sisi utara dan selatan terpahat nama empat khalifah: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mimbar masjid yang masih asli sejak awal berdiri dihiasi ukiran bermotif tumbuh-tumbuhan. Ornamen yang mencuri perhatian adalah ukiran buah srikaya. Filosofinya sederhana namun mendalam: biji-biji srikaya melambangkan pesan-pesan yang disampaikan penceramah, yang diharapkan jatuh dan tumbuh di hati para jemaah untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi serambi, sebuah bedug lawas masih setia digunakan hingga kini. Serambi yang telah diperluas itu menjadi ruang pertemuan sosial, tempat warga beristirahat, berbincang, atau sekadar meneduhkan diri dari terik matahari sebelum menunaikan ibadah. Bertahan dan Berkembang Seiring bertambahnya jumlah jemaah, menurut Prof HM Sholahuddin, masjid mengalami beberapa pengembangan. Pawestren atau ruang khusus perempuan dibangun di sisi selatan. Tempat wudu yang dahulu berupa kolam besar kini diubah menjadi deretan keran demi kemudahan dan kebersihan. Dinding yang sebelumnya dicat juga dilapisi keramik untuk memudahkan perawatan. Meski bagian depan masjid telah mengalami penambahan bangunan, ruang utama tetap dipertahankan keasliannya. Di sanalah roh sejarah dan nilai-nilai tradisi tetap dijaga. Setiap Bulan Suci Ramadhan, Masjid Al Fatih menjadi semakin hidup. “Jemaah memadati ruang salat untuk mengikuti kajian, iktikaf, dan berbagai kegiatan keagamaan yang diselenggarakan takmir,” ujar Prof HM Sholahuddin. Masjid ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang spiritual yang terus berdenyut mengikuti zaman. Di tengah gemuruh kota yang terus berkembang, Masjid Al Fatih Kepatihan berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah, cinta, dan keimanan dapat menyatu dalam satu ruang yang sederhana namun sarat makna.(Tribun-Video.com) Program: Ngabuburit Asyik Editor: Akmal Khoirul Habib Host: Nurma Aisyah #ramadan1447h #ngabuburit #ngabuburitasyik #ramadhan #ramadhan2026 #masjidsejarah #sejarah #masjid #keratonsurakarta #rajasolo #wisata #religi