У нас вы можете посмотреть бесплатно RENUNGAN KITAB SUCI, Rabu 4 Maret 2026 : Matius или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Rabu, 4 Maret 2026 (Pekan II Masa Puasa). Matius 20:17-28. “Jalan Salib: Jalan Pelayanan” Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Masa Prapaskah adalah masa di mana Gereja mengajak kita kembali menata arah hati. Apakah kita sungguh mengikuti Yesus yang berjalan menuju Yerusalem untuk menyerahkan diri untuk keselamatan? Ataukah kita mengikuti Yesus hanya sejauh Ia memberi kita kehormatan dan berkat? Inilah ketegangan yang sering juga terjadi dalam hidup kita. Kita mengaku mengikuti Kristus, tetapi sering tanpa sadar kita masih mencari kemuliaan, pengakuan, posisi, atau kenyamanan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar dua gambaran yang sangat kontras. Yesus sedang berbicara tentang salib, sebagian murid-Nya justru masih memikirkan tahta. Yesus dengan tenang dan sadar berbicara tentang penderitaan-Nya yang akan datang dan akan dialami di Yerusalem. Ia akan diserahkan, dihina, disesah, disalibkan, dan pada hari ketiga akan dibangkitkan. Di sisi lain, kita mendengar bahwa ibu dari anak-anak Zebedeus datang dengan sebuah permintaan: agar kedua anaknya mendapat tempat terhormat bila Yesus meraja. Yesus menjawab permintaan itu dengan sebuah pertanyaan yang sangat dalam: “Dapatkah kamu meminum cawan yang akan Kuminum?” Cawan di sini bukan cawan kemuliaan, melainkan cawan penderitaan dan ketaatan kepada kehendak Bapa. Cawan itu akan benar-benar diminum-Nya di Taman Getsemani. Ia memilih taat, bukan karena penderitaan itu mudah, tetapi karena kasih-Nya kepada manusia lebih besar daripada rasa takut-Nya terhadap salib. Kepada kita hari ini Yesus memberikan prinsip besar Kerajaan Allah: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka, hendaklah ia menjadi hambamu.” Ini adalah revolusi total. Dunia mengenal kepemimpinan sebagai kuasa. Kerajaan Allah mengenal kepemimpinan sebagai pelayanan. Dunia mengejar status. Yesus memilih salib. Yesus mengatakan, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Inilah jantung Injil. Yesus tidak hanya mengajarkan pelayanan. Ia sendiri menjadi pelayanan itu. Ia tidak hanya berbicara tentang pengorbanan. Ia sendiri menjadi kurban. Masa Prapaskah mengundang kita untuk masuk ke dalam logika ini. Logika salib bukan logika kelemahan. Salib adalah kekuatan kasih yang mau berkorban, tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Para saudara, Barangkali dalam pelayanan Gereja, kita ingin diakui, dalam pekerjaan, kita ingin posisi yang lebih tinggi. Semua itu manusiawi. Namun Injil hari ini menantang kita: apakah kita siap membayar harga kasih? Apakah kita siap melayani tanpa harus selalu terlihat? Apakah kita siap mengampuni tanpa menunggu permintaan maaf? Apakah kita siap memberi tanpa selalu dihitung? Prapaskah bukan terutama tentang pantang dan puasa secara lahiriah. Prapaskah adalah latihan hati untuk menjadi seperti Kristus: lebih rendah hati, lebih siap melayani, lebih rela berkorban. Salib bukan tujuan akhir. Kebangkitanlah tujuannya. Tetapi jalan menuju kebangkitan selalu melewati penyerahan diri. Hari ini Yesus berjalan mendahului para murid menuju Yerusalem. Ia tidak lari dari penderitaan. Ia melangkah dengan sadar. Ia melangkah dengan kasih. Semoga dalam Masa Prapaskah ini, kita berani melangkah di belakang Yesus. Bukan mencari tempat di kanan dan kiri-Nya, tetapi berjalan bersama-Nya, memanggul salib kehidupan kita dengan semangat pelayanan. Karena pada akhirnya, kemuliaan sejati bukanlah duduk di tahta, melainkan menjadi serupa dengan Kristus yang mengasihi sampai tuntas. Tuhan memberkati kita semua. Amin.