У нас вы можете посмотреть бесплатно 12 Tahun Menuntut Ilmu di Yaman, Ini Kisah Inspiratif Perjalanan Hidup Habib Achmad Reza Alatas или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Habib Achmad Reza Alatas menempuh pendidikan dasar hingga menengah pertama di Kota Bogor, tempat beliau tumbuh dan dibesarkan. Perjalanan pendidikannya kemudian membawanya ke Jawa Timur sebagai bagian dari persiapan untuk meraih beasiswa ke Universitas Al-Ahgaf. Langkah tersebut menjadi bagian awal dari perjalanannya menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Pada tahun 2010, beliau pun berangkat meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan di Hadhramaut. Di tengah proses menuntut ilmu, beliau sempat kembali ke tanah air lalu akhirnya kembali lagi ke Yaman dan menyelesaikan pendidikannya hingga tahun 2022. Selama berada di Hadhramaut, beliau menetap di Mukalla, salah satu kota penting di wilayah tersebut. Di sana, tidak hanya berkuliah, tetapi juga berkhidmah kepada gurunya, Prof. Abdullah bin Muhammad Baharun. Selain menimba ilmu, beliau turut membantu mengurus mahasiswa dan terlibat dalam kegiatan pengajaran dalam lingkup terbatas. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan diri, tidak hanya sebagai penuntut ilmu, tetapi juga sebagai pribadi yang belajar bertanggung jawab dan mengabdi. Setelah lebih dari satu dekade menempuh pendidikan dan pengabdian di Yaman, beliau akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 2022 untuk melanjutkan peran dan pengabdiannya di tanah kelahiran. Sekembalinya ke Indonesia, beliau melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun Bogor dengan dukungan beasiswa. Di kampus tersebut, beliau juga dipercaya menjadi asisten dosen, membantu proses pembelajaran sekaligus terus memperdalam keilmuan yang beliau tekuni. Bagi beliau, menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apa yang beliau pelajari di ruang akademik, berusaha beliau hadirkan kembali di tengah masyarakat. Beliau meyakini bahwa setiap orang yang memperdalam ilmu memiliki tanggung jawab untuk membagikannya kepada orang lain. Namun, dalam praktiknya, beliau tidak memposisikan diri sebagai pengajar. Beliau lebih memilih menyebut kegiatannya sebagai muroja’ah, yakni mengulang kembali pelajaran bersama masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, beliau berusaha menjaga nilai kerendahan hati, sekaligus membangun suasana belajar yang setara dan penuh kebersamaan. Saat ini, kesibukan beliau berfokus pada dunia pendidikan sekaligus mengelola usaha daring sebagai sumber penghasilan. Bagi beliau, kemandirian ekonomi menjadi bagian penting bagi seorang pendidik agar dapat menjalankan tugasnya dengan tenang dan tidak bergantung pada dunia pendidikan sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Prinsip tersebut merupakan nilai yang diwariskan dari keluarganya, bahwa dakwah dan pendidikan harus dijalankan dengan ketulusan serta ketenangan, tanpa terbebani persoalan ekonomi. Melalui keseimbangan inilah, beliau berupaya terus mengabdi kepada masyarakat, baik melalui pengajaran maupun aktivitas sosial dan usaha yang dijalankannya. Konsep pendidikan di lingkungan Yayasan An-Nur tidak dapat dilepaskan dari sosok pendirinya, Habib Abdullah bin Mukhsin Al Athas. Beliau dikenal sebagai seorang pejuang dakwah dan ulama yang sangat berjasa dalam perkembangan keagamaan di masanya. Pada zamannya, beliau menjadi rujukan dan kiblat bagi masyarakat yang ingin memperdalam ilmu agama. Dalam pandangan habib ahmad, kebaikan tidak dapat dipisahkan dari kebaikan lainnya. Amal sosial tanpa kedekatan kepada Allah tidaklah utuh, sebagaimana dua hal yang tidak mungkin menyatu. Pendidikan, bagi beliau, adalah proses menyelaraskan ilmu, adab, dan spiritualitas dalam satu kesatuan yang seimbang. Warisan pemikiran tersebut terus dijaga dan diteruskan oleh para keturunannya hingga hari ini, menjadi fondasi dalam menjalankan kegiatan pendidikan dan dakwah di lingkungan Yayasan An-Nur. Dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat, beliau berupaya untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar. Beliau menyadari pentingnya memiliki kepekaan sosial agar dapat memahami kebutuhan, persoalan, dan dinamika yang dihadapi masyarakat. Bagi beliau, kehadiran seorang pendidik dan pendakwah bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mampu membaca keadaan dan meresponsnya dengan bijak. Ketika menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat, beliau tidak selalu memilih cara yang sama. Ada pendekatan yang dilakukan secara langsung, ada pula yang ditempuh melalui strategi dan pertimbangan yang matang. Di tengah perubahan zaman, nilai adab, kepekaan, dan pengabdian itulah yang terus beliau jaga dan wariskan. (tribun-video.com) Program: Cerita Para Kiai Video Editor: Sumber: Uploader: Rheymeldi Ramadan Wijaya Update info terkini via tribunnewssultra.com | http://tribunnewssultra.com Follow akun Instagram @tribunnewssultradotcom Follow akun Twitter @tribunsultra Follow dan like fanpage Facebook Tribunnews Sultra YouTube business inquiries: tribunnewsultra@gmail.com