У нас вы можете посмотреть бесплатно SEMUA TERPUKAU! HINGGA ADE ARMANDO AKUI KECERDASAN & KEBERANIAN FIDELA YANG KERITIK KERAS PRABOWO или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Keberanian Mahasiswa ITB Fidela Di sebuah diskusi yang dihadiri oleh para tokoh politik ternama—dari Deddy Sitorus, Ade Armando, hingga Feri Amsari—satu suara nyaring menggema di tengah ruangan. Suara itu bukan berasal dari politisi kawakan, bukan pula dari pakar hukum tata negara, melainkan dari seorang mahasiswa. Fidela Marwa Huwaida, Presiden Mahasiswa ITB, berdiri tegak, menyuarakan keresahan rakyat dengan keberanian yang mengguncang. Tak disangka, bahkan seorang Ade Armando—yang dikenal sebagai pendukung garis keras Prabowo dan Jokowi—memberikan applause atas keberanian Fidela. Sebuah momen yang jarang terjadi, ketika seorang loyalis kekuasaan justru mengakui ketajaman kritik oposisi. Fidela tidak berbicara dengan emosi kosong. Ia berbicara dengan fakta, dengan argumen yang berlandaskan realitas di lapangan. Demonstrasi besar-besaran bertajuk "INDONESIA GELAP" bukan sekadar aksi mahasiswa, melainkan akumulasi kemarahan seluruh elemen masyarakat sipil. "Kami bukan hanya bicara soal isu-isu yang berhembus sesaat. Kami berbicara tentang ketidakstabilan sosial yang hari ini nyata di depan mata. Kebijakan yang diterapkan tanpa perhitungan matang, protes muncul, lalu kebijakan itu dicabut seolah pemerintah menjadi pahlawan. Ini pola yang berulang! Dan yang menjadi korban? Rakyat!" seru Fidela tegas. Kritiknya semakin tajam ketika membedah paradoks kebijakan pemerintah. Pemerintah terus berbicara soal efisiensi anggaran, namun di saat yang sama, kabinet terus diperbesar, tubuh pemerintahan terus digendutkan. Sementara itu, akses terhadap hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial justru semakin sulit dijangkau oleh rakyat. "Bagaimana mungkin pemerintah bicara soal efisiensi, tetapi di saat yang sama mereka terus memperbesar tubuhnya sendiri?!" lanjutnya. Ia juga menyinggung kebijakan yang tampak seperti uji coba di atas penderitaan rakyat. Langkanya gas elpiji 3 kg, kebijakan UKT yang membebani mahasiswa, hingga inkonsistensi pejabat dalam menyampaikan kebijakan. "Apakah rakyat harus dikorbankan terlebih dahulu, dijadikan kelinci percobaan sebelum akhirnya kebijakan dicabut kembali?" Kritik Fidela bukan sekadar kritik. Ia membawa tuntutan jelas: Evaluasi besar-besaran terhadap kebijakan dan tata kelola pemerintahan, agar lebih berpihak kepada rakyat, berbasis kebenaran ilmiah, berbasis ilmu pengetahuan! Di akhir pernyataannya, Fidela menutup dengan seruan yang menggema di seluruh ruangan: "Suara rakyat adalah suara yang kami perjuangkan! Dan kami akan terus berdiri di garis depan untuk menuntut keadilan!" Sebuah pernyataan yang tak hanya mengguncang diskusi, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi pemerintahan hari ini.