У нас вы можете посмотреть бесплатно Kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto Saat Jadi Anak Buah Soeharto или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto Saat Jadi Anak Buah Soeharto Dalam kesaksiannya dalam buku,"70 Tahun Pak Harto," Mayjen Purnawirawan Jasir Hadibroto menuturkan cerita ketika dia masih jadi anak buah Jenderal Soeharto di Kostrad. Ketika itu, Jasir sudah menyandang pangkat Kolonel. Sementara Soeharto, sudah jadi Mayjen dan sedang memangku tugas sebagai Pangkostrad. Jasir bercerita, setelah operasi PRRI/Permesta selesai, ia bertemu kembali dengan Mayjen Soeharto yaitu dalam Operasi Dwikora. Ketika itu Jasir menjadi bawahan langsung dari Soeharto. Mayjen Soeharto saat itu adalah Panglima Kostrad yang merangkap Wakil Panglima Kolaga. Sementara Jasir adalah Komandan Brigade Infantri IV Kodam Diponegoro yang diperbantukan di Kostrad. "Tugas yang dibebankan kepada saya adalah memimpin pasukan yang akan didaratkan di Malaysia. Agar tugas itu dapat berhasil dengan baik, maka kami mengadakan berbagai latihan di Banyumas," kata Jasir. Dalam latihan tersebut, menurut Jasir, Mayjen Soeharto langsung memeriksa latihan. Bahkan Mayjen Soeharto mengamati latihan-latihan pasukan yang akan ditugaskan baik siang maupun malam. "Kadang-kadang kalau kebetulan tidak ada latihan, kami duduk dengan santai berbincang-bincang dengan beliau. Pembicaraan berkisar pada one way ticket, artinya berangkat ke Malaysia hanya satu kali menyebrang, sesudah itu tidak kembali. Mengapa timbul kesan seperti itu? Karena kita menghadapi lawan yang besar dan tangguh. Oleh sebab itu latihan-latihan kami lakukan dengan sungguh-sungguh," tutur Jasir. Jasir melanjutkan ceritanya. Kata Jasir, pasukannya latihan sampai enam bulan lamanya. Dalam jangka waktu itu Jenderal Soeharto terkadang meninggalkan arena latihan, akan tetapi kemudian datang lagi. Jenderal Soeharto terus menunggu latihan-latihan kami sampai pada waktu latihan di pantai selatan Banyumas. Kemudian setelah selesai menempuh berbagai latihan itu, Jasir melapor kepada Soeharto bahwa ia dan pasukannya siap untuk berangkat ke Sumatera Timur dalam rangka tugas Dwikora. Ini merupakan daerah etape terakhir sebelum pasukannya didaratkan di Malaysia. Di pantai Timur Sumatera ketika itu masih ada dua brigade lainnya, yakni Brigade Witarmin, yang berinduk pasukan di utara atau Pangkalan Brandan dan Brigade Musa di selatan di Pekanbaru. Setiap brigade berkekuatan penuh 5000 orang dan dilengkapi dengan peluru kendali ENTAC. Sebelum pendaratan dilakukan, Jenderal Soeharto datang dan memeriksa pasukan serta berdialog langsung dengan para prajurit satu per satu. "Saya masih ingat yang ditanyakan oleh beliau antara lain: "Di mana keluargamu sekarang dan bagaimana perasaanmu mau bertempur? Dialog-dialog tersebut dilakukan Pak Harto sampai pada regu yang paling kecil, bahkan beliau ikut tidur di barak-barak prajurit. Di situlah kehebatan Pak Harto beliau bersatu dengan anak buah, sehingga antara pemimpin dan bawahan timbul rasa saling percaya-mempercayai yang cukup dalam," ujar Jasir. Namun, kata Jasir, rencana pendaratan tersebut kemudian terpaksa dibatalkan, karena meletusnya peristiwa G30S/PKI. Sampai akhirnya, Mayjen Soeharto mengirim telegram dari Markas Kostrad agar Jasir membawa Brigade IV/Diponegoro ke Jawa Tengah. "Waktu itu saya masih bertanya-tanya, mengapa ada perubahan rencana tersebut. Lalu saya menghadap Pak Harto di Markas Kostrad Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1965. Saya datang sekitar pukul 15.00 dan Pak Harto sedang tiduran di veldbed memakai kaos oblong," ujar Jasir. Jasir masih ingat, saat itu sudah berhadapan, Mayjen Soeharto langsung bertanya. "Kamu sudah tahu situasinya?” Kemudian Jasir menjawab, menyampaikan hal-hal terkait G30S yang ia ketahui. Mayjen Soeharto kemudian melengkapi dengan informasi-informasi yang belum diketahuinya.