У нас вы можете посмотреть бесплатно Perunggu - 33x (Live Recorded at Dalawampu Artemora 2025) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
𝐃𝐚𝐥𝐚𝐰𝐚𝐦𝐩𝐮 𝐀𝐫𝐭𝐞𝐦𝐨𝐫𝐚 2 Agustus 2025 Perunggu merupakan grup musik rock alternatif asal Jakarta yang dibentuk pada tahun 2019 dan dikenal luas dengan julukan sebagai "band rock pulang kantor" karena latar belakang para personelnya yang merupakan pekerja profesional. Grup yang digawangi oleh Maul Ibrahim (vokal/gitar), Adam Adenan (bass), dan Ildo Hasman (drum) ini berhasil mencuri perhatian industri musik melalui album debut mereka bertajuk Memorandum (2022), yang memuat lagu-lagu hit seperti "Biang Lara" dan "Ini Abadi" dengan lirik yang sangat relevan bagi orang dewasa muda yang sedang meniti karier dan kehidupan. Dengan sentuhan musik rock yang energetik namun tetap melodius, Perunggu terus memantapkan posisi mereka di kancah musik nasional melalui perilisan album kedua bertajuk Dalam Dinamika (2025) yang menunjukkan kematangan musikalitas mereka dalam menangkap dinamika kehidupan sehari-hari. 33x" (dibaca: Tiga Puluh Tiga Kali) merupakan salah satu trek penuh energi dari album debut Perunggu bertajuk Memorandum (2022) yang menceritakan tentang siklus kegagalan dan keteguhan hati. Judulnya secara simbolis merujuk pada jumlah pengulangan doa atau zikir, yang dalam konteks lagu ini menggambarkan upaya terus-menerus seseorang untuk bangkit kembali meskipun telah berkali-kali dihantam oleh kegagalan dan kekecewaan dalam hidup. Dengan aransemen rock alternatif yang sangat anthemic dan tempo cepat, lagu ini menjadi penyemangat bagi para pendengarnya—terutama para pekerja yang merasa lelah—untuk tetap melangkah maju dan tidak menyerah pada keadaan. Melalui liriknya yang lugas, Perunggu berhasil mengubah narasi keputusasaan menjadi sebuah perayaan atas daya tahan (resiliensi) manusia dalam menghadapi kerasnya realita.