У нас вы можете посмотреть бесплатно Kirab Malam Selikuran, Abdi Dalem Jalan Kaki Raja Duduk Manis di Dalam Pajero или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
SUMBER: https://solo.tribunnews.com/solo-raya... TRIBUNSOLO.COM - Malam Selikuran di Keraton Kasunanan Surakarta seharusnya selalu menghadirkan gambaran masa lalu yang masih hidup seperti obor bambu menyala redup, abdi dalem berjalan perlahan, dan kereta kencana meluncur anggun di tengah malam Ramadan. Namun Senin malam itu, suasananya sedikit berbeda. Di tengah iring-iringan kirab menuju Taman Sriwedari, ratusan abdi dalem berjalan kaki membawa oncor dan hasil bumi. Beberapa kerabat keraton tetap setia menunggangi kereta kencana simbol kejayaan masa silam yang masih berusaha bertahan. Lalu di tengah rombongan itu, muncul kendaraan yang terasa sangat modern. Sebuah Mitsubishi Pajero putih melaju perlahan, menjadi 'kereta kencana' versi abad ke-21. Di dalamnya duduk Pakubuwono XIV Purboyo, penguasa yang mengklaim takhta Keraton Kasunanan Surakarta, ditemani sang ibu GKR Pakubuwono XIII. Kontrasnya sulit diabaikan, di luar mobil, para abdi dalem berjalan kaki dengan langkah pelan, membawa tradisi yang telah hidup berabad-abad. Di dalam mobil, pemimpin kirab menikmati perjalanan dengan pendingin udara dan kursi empuk. Begitulah kirab malam Selikuran tahun ini berjalan perpaduan antara tradisi, simbol, dan sedikit ironi zaman. Kirab sendiri tetap berlangsung meriah. Ratusan peserta membawa obor, ting, serta aneka hasil bumi sebagai lambang rasa syukur menyambut sepertiga akhir Ramadan, malam-malam yang dipercaya mendekatkan umat pada Lailatul Qadar. Setibanya di Taman Sriwedari, rombongan disambut perwakilan pemerintah kota, termasuk Wali Kota Solo Respati Ardi. Hasil bumi didoakan, lalu dibagikan kepada masyarakat yang sudah menunggu sejak sore. Secara seremonial, semuanya berjalan sebagaimana mestinya: kirab, doa, pengajian, dan pembagian berkah. Namun bagi sebagian orang yang menyaksikan malam itu, ada satu detail yang sulit dilupakan. Bukan obor yang menyala bukan pula kereta kencana melainkan sebuah Pajero putih yang diam-diam menggantikan simbol kejayaan masa lalu membawa pesan bahwa bahkan tradisi keraton pun tak sepenuhnya kebal terhadap zaman.