У нас вы можете посмотреть бесплатно Tradisi Pembagian Bubur Samin Ramadhan, Jejak Perantau Pedagang Emas или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kota Solo selama ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa yang paling kuat di Indonesia. Keraton, batik, gamelan, hingga tradisi leluhur seakan menjadi identitas yang melekat erat pada kota ini. Namun, di balik khazanah budaya Jawa yang dominan, Solo juga menyimpan kisah menarik tentang komunitas perantau yang turut memberi warna dalam perjalanan sejarahnya. Satu di antara jejak itu dapat ditemukan di kawasan Jayengan, Serengan. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota, berdiri sebuah masjid yang bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keberadaan budaya Banjar di Surakarta: Masjid Darussalam Jayengan. Masjid ini merupakan satu-satunya masjid di Solo yang memiliki kaitan erat dengan sejarah komunitas Banjar yang merantau dari Kalimantan. Awal Mula Perantau Banjar di Solo Kisah Masjid Darussalam Jayengan bermula pada akhir abad ke-19, ketika sejumlah pedagang emas dan permata dari Kalimantan mulai berdatangan ke Solo. Mereka menetap, berdagang, lalu membentuk komunitas yang semakin hari kian berkembang. Seiring bertambahnya jumlah warga Banjar di kawasan Jayengan, kebutuhan akan tempat ibadah pun muncul. Dengan semangat kebersamaan, mereka kemudian membangun sebuah musala sederhana. Musala itu dikenal dengan nama Langgar Jayengan Darussalam, berdiri sekitar tahun 1910–1911. Dari tempat kecil itulah, aktivitas keagamaan komunitas Banjar di Solo mulai berakar. Seiring waktu, jumlah jemaah meningkat dan langgar tersebut berkembang menjadi masjid permanen yang berdiri kokoh hingga sekarang. Tradisi Bubur Samin yang Menghidupkan Ramadhan Masjid Darussalam Jayengan tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga tradisi khas yang terus hidup hingga kini. Saat bulan Ramadhan tiba, masjid ini selalu dipenuhi jemaah yang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan hangatnya kebersamaan dalam tradisi pembagian Bubur Samin. Wakil Ketua Yayasan Darussalam, H. Noor Cholish, menceritakan bahwa tradisi ini telah melekat kuat sejak puluhan tahun lalu. “Tradisi Bubur Samin dimulai sejak tahun 1985,” ungkap Noor pada Kamis (19/2/2026). Pada awalnya, warga hanya berkumpul di masjid untuk berbuka puasa bersama dengan membawa makanan masing-masing. Namun, kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi kesepakatan untuk memasak satu hidangan khas Banjar: Bubur Samin. Bubur Samin merupakan bubur tradisional Banjar yang kaya rempah, dimasak dengan campuran sayuran, daging, serta minyak samin yang memberikan aroma khas dan rasa gurih yang kuat. Lebih dari sekadar makanan, bubur ini menjadi lambang solidaritas, kebersamaan, dan berbagi keberkahan di bulan suci. 50 Kilogram Beras Setiap Hari Setiap sore selama Ramadhan, dapur masjid menjadi pusat aktivitas yang penuh semangat. Noor menuturkan, pihak masjid memasak hingga 50 kilogram beras setiap hari untuk dibagikan kepada masyarakat. “Beras tersebut diolah bersama rempah-rempah, sayuran, daging, dan minyak samin hingga menjadi bubur kental yang siap disantap menjelang waktu berbuka,” jelasnya. Tradisi ini terus berlangsung tanpa henti sejak 1985, kecuali ketika pandemi Covid-19 sempat menghentikan kegiatan sosial di berbagai tempat ibadah. Antusiasme masyarakat yang begitu besar membuat tradisi Bubur Samin ini semakin dikenal luas. Bahkan pada tahun 2025, tradisi tersebut tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda, sebuah pengakuan atas nilai budaya dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya. Masjid dengan Identitas Banjar-Jawa Masjid Darussalam Jayengan beralamat di Jalan Gatot Subroto No 161, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Lokasinya strategis, berada di pinggir jalan utama dan dekat dengan sejumlah destinasi wisata kota. Bangunannya cukup luas, dengan serambi yang nyaman dan sering menjadi tempat berkumpul jemaah, terutama saat berbuka puasa. Walaupun telah mengalami beberapa renovasi, masjid ini tetap mempertahankan identitas Banjar-Jawa yang khas. Noor menyebutkan bahwa beberapa bagian bangunan masih asli sejak pertama kali didirikan. “Salah satu yang unik adalah akses masuk imam yang menyerupai terowongan kecil, yang hingga kini masih dipertahankan,” ujarnya. Harapan untuk Warisan Budaya dan Wisata Religi Selain pembagian Bubur Samin, Masjid Darussalam Jayengan juga menggelar berbagai kegiatan keagamaan selama Ramadhan, menjadikannya pusat spiritual sekaligus pusat budaya komunitas Banjar di Solo. Noor berharap masjid ini semakin dikenal luas sebagai bagian dari warisan budaya dan wisata religi Kota Solo. “Semoga nilai kebersamaan dan keberkahan yang ada di sini terus hidup,” ujarnya. Di tengah kota yang lekat dengan budaya Jawa, Masjid Darussalam Jayengan berdiri sebagai pengingat bahwa Solo adalah rumah bagi banyak cerita. Dan setiap Ramadhan, aroma Bubur Samin yang mengepul dari dapur masjid menjadi tanda bahwa tradisi, solidaritas, dan sejarah masih terus mengalir hangat di Jayengan.