У нас вы можете посмотреть бесплатно Ya ampun pasar burung sebelum di renovasi penjuwal dari desa gunung kumpul nya di sini или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Pasar burung tradisional Jawa yang terletak di dekat Terminal Tirtonadi dan tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan pernah menjadi salah satu denyut kehidupan kota Surakarta sebelum direnovasi. Di kawasan yang ramai oleh lalu lalang bus antarkota dan suara kereta yang datang dan pergi, pasar ini tumbuh sebagai ruang pertemuan para pecinta burung, pedagang, dan warga sekitar. Sebelum wajahnya diperbarui, suasana pasar terasa sangat khas dan sederhana. Kios-kios semi permanen berjajar rapat, sebagian beratapkan seng atau terpal yang mulai pudar dimakan cuaca. Sangkar-sangkar burung digantung bertingkat, menciptakan pemandangan warna-warni yang hidup. Kicau burung bercampur dengan suara tawar-menawar, menjadi irama alami yang menyambut siapa saja yang datang. Berbagai jenis burung dijual di sana—mulai dari perkutut, kenari, murai, hingga burung kicau lokal yang menjadi kebanggaan para penghobi. Tidak hanya burung, pasar ini juga menyediakan pakan, jamu burung, sangkar ukir khas Jawa, hingga aksesori gantungan yang dihias dengan sentuhan seni tradisional. Banyak pedagang adalah warga sekitar yang telah berjualan turun-temurun, menjaga tradisi sekaligus menjalin relasi akrab dengan pelanggan tetap mereka. Aroma pakan dan kayu sangkar yang baru dipernis bercampur dengan debu jalanan dari arah terminal. Meski terlihat padat dan terkadang becek saat hujan turun, justru di situlah terasa kehangatan suasana pasar tradisional. Pembeli bisa berbincang panjang tentang kualitas suara burung, silsilah, hingga tips perawatan, sesuatu yang jarang ditemukan di pusat perdagangan modern. Pasar burung ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang sosial. Banyak komunitas berkumpul, berbagi cerita, bahkan merencanakan lomba kicau di berbagai penjuru Solo dan sekitarnya. Kedekatannya dengan Terminal Tirtonadi menjadikannya mudah diakses oleh pendatang dari luar kota, sementara lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Solo Balapan membuatnya menjadi persinggahan unik bagi para pelancong. Sebelum renovasi, bangunannya mungkin sederhana dan kurang tertata, namun justru menyimpan karakter kuat: suara kicau yang bersahut-sahutan, interaksi hangat antarpedagang, serta nuansa Jawa yang kental. Ia menjadi potret kecil kehidupan tradisional di tengah geliat kota yang terus berkembang.