У нас вы можете посмотреть бесплатно Eps. 4 : Journey to The East | Turun Gunung Tambora dan Lanjut Kemping di Sarae Nduha или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Turun dari Gunung Tambora, kami kembali melintasi hamparan savana yang luas—indah, tenang, dan begitu syahdu. Perjalanan turun kali ini kami tidak lagi terbagi dua grup. Empat belas mobil peserta dan dua mobil ranger beriringan membentuk barisan panjang di tengah savana Tambora. Sebuah konvoi yang bergerak sebagai satu kesatuan, memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal. Ah… pemandangan ini benar-benar tak terlupakan. Barisan mobil membelah savana hijau yang luas, lalu perlahan kabut turun menyelimuti. Bukan cuma indah, tapi juga terasa begitu syahdu. Di barisan depan, VX sempat kesulitan menanjak—ban belakangnya terperosok ke lubang. Tanpa banyak bicara, winch pun dipasang. Dengan winching point Triton Om Dokter Naufal, VX akhirnya bisa keluar dan melanjutkan perjalanan. Obstacle demi obstacle kembali kami lewati. Turunan curam yang bisa membuat buritan mentok, lalu tanpa jeda harus menjaga momentum untuk menghadapi tanjakan tajam di depannya. Satu per satu mobil masuk, fokus penuh, mesin meraung, roda mencari traksi. Setelah semua kendaraan berhasil melewati rintangan, perjalanan kembali dilanjutkan. Kami membelah savana hingga mencapai puncak bukit. Dan saat melewati puncaknya… laut terbentang di kejauhan. Sekali lagi, Tuhan memperlihatkan keagungan-Nya lewat panorama yang begitu luar biasa. Laut biru, savana hijau, dan konvoi panjang di antaranya—pemandangan mahal yang rasanya sulit terulang lagi, selain di Gunung Tambora. Turun dari bukit, kami regrup sejenak, menunggu mobil paling belakang menyusul. Setelah rombongan lengkap, perjalanan berlanjut menyusuri savana yang perlahan berubah—kini dikelilingi pohon-pohon besar. Kami memasuki hutan yang semakin rapat. Ranting-ranting menyapu body mobil, suaranya bikin jantung ikut berdegup lebih kencang. Setiap gesekan terasa seperti tanda perjuangan yang akan membekas. Dan inilah yang kami sebut… “Lukisan Tambora.” Jejak ranting yang terukir di body mobil, menempel tanpa pilih kasih—baik di mobil baru maupun yang baru saja dicat ulang. Bukan sekadar lecet, tapi kenangan dari perjalanan yang luar biasa. Menjelang akhir jalur Tambora, kami disambut pemandangan tak biasa—sekumpulan sapi merumput bebas di tengah savana. Tanpa penggembala, tanpa pagar. Sebuah suasana yang mungkin tak akan kita jumpai di Pulau Jawa. Akhirnya, sampailah kami di penghujung jalur Tambora. Rencana awalnya, perjalanan akan dilanjutkan menuju Pulau Satonda. Namun mempertimbangkan jarak yang masih cukup jauh, kami memutuskan untuk bermalam dan kemping di Sarae Nduha. Malam di Sarae Nduha terasa tenang. Setelah dua hari naik turun Tambora, kini saatnya beristirahat. Ada yang menikmati angin laut, ada yang berbagi cerita, dan ada pula yang pijat untuk memulihkan stamina sebelum perjalanan berikutnya. Sarae Nduha berada di tepi Teluk Saleh, Sumbawa. Laut dan padang rumput bertemu di satu garis horizon, menciptakan pemandangan yang begitu memukau. Perjalanan Tambora mungkin telah usai, tapi cerita dan jejaknya akan selalu tertinggal—di hati, dan di body mobil kami. Karena setiap goresan… punya cerita. #Tambora #Offroad #Overland #4x4 #JourneyToTheEast #Pos5Tambora #Camping #NoOneLeftBehind #Sumbawa #LandCruiser #Hilux #LandRover #MadlifeOverland #Prado #saraenduha