У нас вы можете посмотреть бесплатно Exclusive musik populer Broery Pesolima REMBULAN MERAH cipt.BorrySaiya. Haris Rotinsulu Sugeha-cover или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
LAGU POPULER BROERY MARANTIKA PESOLIMA 'REMBULAN MERAH' Cipt. Borry Saiya. cover video #HarisRotinsuluSugeha Broery Marantika lahir di Ambon pada 25 Juni 1948 dari pasangan Gijsberth Pesulima dan Wilmintje Marantika dengan nama asli Simon Dominggus Pesulima. Ia dibesarkan paman dari keluarga ibunya, Simon Marantika, dan punya tiga saudara: Henky, Freejohn, serta Helmi. Selepas juara kontes menyanyi di RRI Ambon, ia memutuskan merantau ke Jakarta, tepatnya pada 1964, demi mengejar mimpinya sebagai penyanyi papan atas. Di Jakarta, ia ditampung Remy Leimena. Ia juga mengubah namanya jadi “Broery Marantika”—mengikuti identitas keluarga sang ibu. Awal karier Broery diisi dengan bergabung bersama kelompok The Pro’s yang beranggotakan Dimas Wahab (bas), Pomo (alat tiup), Enteng Tanamal (gitar), dan Fuad Hasan (drum). Broery mengisi posisi vokal. Grup ini didukung perusahaan minyak negara, Pertamina, dan dikenal juga sebagai “Pertamina Culture Group” kala tampil di Amerika dengan misi memperkenalkan Indonesia. Lewat The Pro’s, nama Broery perlahan melejit. Bahkan, melebihi nama grup itu sendiri. Kemampuannya mengolah suara dan melakukan improvisasi yang di atas rata-rata membuatnya mudah meraih perhatian publik. Sehabis cabut dari The Pro’s, ia memutuskan bersolo karier. Pada 1969, ia masuk dapur rekaman dan mencetak lagu sekaligus hits pertamanya, “Angin Malam” yang diciptakan A. Riyanto. Selain itu, Broery juga melahirkan tembang-tembang populer lainnya seperti “Widuri,” “Mengapa Harus Jumpa,” “Aku Jatuh Cinta,” sampai “Biarkan Bulan Bicara.” Empat tahun kemudian, seperti dicatat Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015), ia mengerjakan album soundtrack film Akhir Sebuah Impian bersama A. Riyanto, Emilia Contessa, dan Benyamin Sueb. Dalam album ini, Broery membawakan lagu “Angin Malam,” “Mimpi Sedih,” serta “Duri dalam Cinta.” Dekade 1970-an adalah tahun keemasan Broey. Tak hanya produktif meramu album serta mendatangkan prestasi seperti saat ia menang Festival Lagu Pop Nasional 1974 dan mewakili Indonesia bertarung di ajang World Pop Song Festival di Tokyo, Broery juga menjamah dunia film. Tercatat, Broery pernah jadi pemain di Brandal Metropolitan (1971), Lagu Untukmu (1973), Jangan Biarkan Mereka Lapar (1975), Impian Perawan (1976), serta Istriku Sayang Istriku Malang (1977). Di lain sisi, tak sebatas mementingkan ketenarannya sendiri, Broery tak ragu jadi mentor dan rekan duet penyanyi lainnya. R.Z. Leirissa dalam Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan, Volume 2 (1995) mencatat, Broery pernah jadi mentor Jamal Mirdad, Andi Mattalatta, Hetty Koes Endang, hingga Rafika Duri. Sedangkan untuk rekan duet, Broery berkolaborasi dengan banyak penyanyi, baik lokal maupun internasional. Ia pernah berduet bersama Emillia Contessa (“Layu Sebelum Berkembang,” “Nasib Pengembara”), Vina Panduwinata (“Bahasa Cinta,” “Untuk Apa Lagi”), Dewi Yull (“Kharisma Cinta,” “Rindu yang Terlarang”), sampai Sharifah Aini, penyanyi asal Malaysia (“Seiring dan Sejalan”). Melejitnya nama Broery turut memengaruhi kehidupan pribadinya. Banyak yang berkata bahwa Broery termasuk “orang yang sulit.” Enteng Tanamal, rekan Broery kelahiran Ambon 1948, misalnya, menyebut Broery adalah penyanyi yang “susah diatur.” Masa jaya Broery perlahan memudar saat memasuki 1980-an. Menurut pengakuannya sendiri kepada Berita Harian, peminatnya di Indonesia “sudah merasa jemu” akan kehadirannya karena ia terlampau sering menghiasi film-film sampai sampul majalah. “Mereka enggan melihat wajah saya lagi maupun mendengar nyanyian saya,” akunya. Dari situ, Broery kemudian mencari peruntungan ke Singapura dan Malaysia. Di dua negara ini, Broery masih punya nilai tawar cukup tinggi. “Mujurlah saya masih mempunyai ramai peminat di Singapura dan Malaysia,” tuturnya. Ia menambahkan, baik Singapura maupun Malaysia sudah dianggap sebagai “kampung halaman yang kedua” dan Broery merasa senang tinggal di negara itu. Pangeran Asmara dan Jepret Selebritas Publik mengenal Broery bukan sebatas ia penyanyi pop dan bintang film yang kondang, melainkan juga karena kisah asmaranya yang jadi buruan para wartawan untuk ditempatkan di halaman depan koran-koran lokal. Banyak orang yang menganggap ia playboy, pangeran asmara, serta si penakluk hati perempuan. Bahkan, Berita Harian edisi 14 Desember 1975, menyebut Broery sebagai “penyanyi Maluku yang telah mencuri hati ribuan gadis di rantau.” Ada dua masa ketika kehidupan asmara Broery jadi santapan empuk publik. Pertama, ketika ia menjalin asmara dengan aktris kawakan, Christine Hakim. Dan, kedua, saat ia berhubungan dengan penyanyi kelahiran Singapura, Anita Sarawak. Relasinya dengan Christine Hakim bermula saat ia selesai syuting Hapuskanlah Air Matamu (1975). Berita Harian menulis bahwa usai syuting, hati Broery “disesaki penyakit rindu” terhadap perempuan bernama Christine Hakim.