У нас вы можете посмотреть бесплатно Tradisi Sadranan di Lereng Merapi–Merbabu, Serasa Lebaran sebelum Ramadhan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Warga lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tepatnya di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah memiliki cara tersendiri menjaga tradisi dan merawat silaturahmi. Selain merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat setempat juga menggelar tradisi Sadranan menjelang Bulan Ramadhan. Bahkan, kemeriahannya kerap disebut melebihi suasana Lebaran. Tahun ini, Sadranan digelar pada Rabu, (4/2/2026). Sejak pagi, suasana desa berubah. Deretan rumah di lereng Merapi–Merbabu tampak tak pernah sepi. Pintu-pintu terbuka lebar, panci-panci besar berjajar di teras, dan tamu datang silih berganti hingga sore hari. Suasananya menyerupai hari raya. Di Boyolali, warga kerap berkelakar bahwa dalam setahun ada “tiga kali Lebaran” yakni saat Idul Fitri, Idul Adha, dan menjelang Ramadan, tepatnya pada Bulan Syakban atau Ruwah. Tradisi menjelang puasa inilah yang dikenal sebagai Sadranan, dan paling semarak dirayakan di sebagian besar wilayah Kecamatan Cepogo. Para perantau pun banyak yang mudik. Seperti Idul Fitri, masyarakat saling berkunjung. Kerabat menyambangi keluarga, yang muda mendatangi yang tua, bahkan teman dari teman pun diterima dengan tangan terbuka. Ada satu “aturan” tak tertulis: tamu bukan hanya mencicipi kudapan, tetapi juga wajib menyantap nasi. Sebab tuan rumah telah menyiapkan hidangan istimewa sebagai bentuk penghormatan. Bagi warga, menjamu tamu bukan sekadar kewajiban, melainkan kehormatan. Bahkan, tuan rumah merasa kurang berkenan jika tamu pulang tanpa makan. “Ya, saya sendiri tidak tahu persis kapan mulai. Tapi sejak bapak saya masih ada, tradisi ini sudah berjalan,” ujar Saeri, warga Cepogo, Rabu (4/2/2026). “Kita cuma datang, ngobrol sebentar atau tanya kabar saja,” lanjutnya. “Sadranan mengajarkan kita menghormati leluhur sekaligus menjaga hubungan antar keluarga dan tetangga.” Pungkasnya. Tradisi Sadranan diawali dengan kenduri di kompleks makam. Warga berkumpul untuk mendoakan para leluhur melalui tahlil dan doa bersama. Tidak hanya masyarakat setempat, keluarga dari berbagai daerah yang memiliki hubungan darah atau sejarah dengan kawasan tersebut turut hadir. Salah satu titik yang ramai dikunjungi adalah makam di Puroloyo. Makam yang biasanya sunyi mendadak menjadi ruang pertemuan, tempat ingatan dan kerinduan dipertemukan kembali. Setelah doa bersama, arus silaturahmi berlanjut ke rumah-rumah warga. Jalan desa dipadati kendaraan yang terparkir di tepi sawah, di bawah pepohonan, hingga di mulut gang sempit. Namun tak ada keluhan; kemacetan hari itu justru dianggap berkah. Di setiap rumah, suasana serupa terulang. Tamu dipersilakan duduk, berbincang ringan, lalu disuguhi hidangan. Tidak ada agenda resmi, tak ada percakapan berat. Hanya tanya kabar, senyum hangat, dan sendok yang akhirnya menyentuh nasi, meski kerap setelah bujukan halus dari tuan rumah. Dalam Sadranan, sekat sosial seakan luruh. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyambut dengan lapang dada. Hidangan pun beragam, mulai dari makanan ringan hingga sajian berat, semuanya disiapkan dengan niat memuliakan tamu. Salah satu pusat Sadranan terbesar berada di Kecamatan Cepogo. Rangkaian kegiatan biasanya diawali dengan pembersihan makam (bubak), doa bersama, dan makan bersama dengan membawa tenong berisi makanan, khususnya apem. Setiap dukuh memiliki jadwal berbeda, ditentukan melalui kesepakatan para sesepuh desa. Secara historis, tradisi ini diyakini berakar dari budaya penghormatan leluhur pada masa Kerajaan Majapahit abad ke-13 yang dikenal sebagai Sadhara. Tradisi tersebut kemudian mengalami akulturasi ketika Islam berkembang di tanah Jawa. Peran dakwah Wali Songo, serta tokoh lokal seperti Syekh Ibrahim atau Mbah Bonggol Jati di wilayah Cepogo, disebut turut mewarnai perubahan ritual dengan memasukkan unsur doa-doa Islam dalam praktik ziarah dan kenduri. Kini, Sadranan tetap lestari sebagai agenda tahunan warga lereng Merapi–Merbabu. Ia diwariskan bukan melalui aturan tertulis, melainkan melalui rasa hormat kepada leluhur dan rasa hangat dalam persaudaraan. Di balik kesederhanaannya, ada satu pesan yang terus hidup: silaturahmi harus dijaga. Di lereng Merapi–Merbabu, silaturahmi bukan sekadar slogan. Ia hadir dari rumah ke rumah, disuguhkan dalam sepiring nasi, dan dibagikan dengan tulus antarsesama.(TribunSolo.com) Kredit foto: Tradisi Sadranan di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tepatnya di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). Warga bersilaturahmi ke tetangga, bercengkerama hingga menyantap hidangan yang telah disajikan (TribunSolo.com)