У нас вы можете посмотреть бесплатно Ngabuburit Sambil Petik Kopi di Tengah Kabut Lereng Gunung Ungaran или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
TRIBUN-VIDEO.COM - Kabut turun perlahan di perbukitan Desa Genting, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Udara pada Senin (23/02/2026) sore itu dingin, menyusup lembut ke sela-sela jaket dan mengajak siapa pun untuk melambatkan langkah. Di balik rimbun pepohonan dan kebun yang menghijau, sebuah rumah lawas bergaya pedesaan berdiri bersahaja. Dinding kayu, atap sederhana, dan halaman kecil menyambut tamu tanpa hiruk-pikuk kota. Di sanalah Roomah Osing Coffee tumbuh, sebuah kedai mungil di lereng perbukitan yang menawarkan lebih dari sekadar secangkir minuman hangat. Aroma kopi mengepul dari dapur kecil, berpadu dengan semilir angin pegunungan. Panorama pedesaan yang tenang membuat pengunjung betah berlama-lama. Namun, di tempat ini, kopi bukan hanya perkara rasa pahit atau aroma yang menggoda. Setiap tegukan adalah cerita tentang perjalanan panjang: dari biji yang ditanam petani, dipetik di kebun, diolah, disangrai, hingga akhirnya tersaji di cangkir. Bagi Firman, pemilik kedai, kopi adalah jembatan antara manusia dan alam. Karena itulah, saat Ramadhan tiba, ia membuka ruang belajar yang berbeda, trip edukasi gratis menyusuri kebun kopi di sekitar kedai. Sore itu, beberapa pengunjung berkumpul di teras. Mereka datang dari berbagai daerah, sebagian dari Kota Semarang, sebagian lagi dari wilayah sekitar. Firman memimpin langkah menuju kebun kopi di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Jalan setapak yang diapit tanaman hijau menjadi jalur pembuka perjalanan. Hening sesekali pecah oleh tawa kecil dan gesekan dedaunan tertiup angin. Tak sampai tiga menit berjalan, rombongan tiba di kebun kopi robusta. Daunnya rimbun, buah-buah kecil menggantung di dahan, sebagian telah memerah. Firman memetik satu buah merah menyala dan menunjukkannya kepada peserta. “Ini kopi robusta, salah satu jenis yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia,” ujar Firman. Ia menjelaskan bahwa robusta dikenal dengan rasa pahit yang kuat karena kandungan kafeinnya tinggi. Tanamannya relatif lebih tahan terhadap hama dan penyakit, sehingga produktivitasnya tinggi dan menjadi andalan perkebunan rakyat. Robusta tumbuh optimal di dataran rendah hingga menengah, sekitar 200–800 meter di atas permukaan laut. Keranjang plastik kecil dibagikan kepada peserta. Mereka dipersilakan memetik buah merah yang matang. Tangan-tangan awam mulai menjelajah ranting, memilih cherry satu per satu. Beberapa tampak takjub, seolah baru menyadari bahwa minuman yang biasa dinikmati setiap hari bermula dari buah kecil berwarna merah. Firman melanjutkan penjelasannya tentang masa tanam dan panen. Tanaman robusta mulai berbuah pada usia sekitar 2,5 hingga 3 tahun. Panen raya umumnya terjadi antara Mei hingga September, dengan puncaknya pada Juni hingga Agustus, meski waktu panen dapat bergeser tergantung curah hujan dan ketinggian wilayah. Perjalanan berlanjut ke kebun arabika yang berada di dataran lebih tinggi. Jalur sedikit menanjak, tanah lembap, dan aroma dedaunan basah menyertai langkah. Di kebun ini, Firman kembali bercerita. Arabika, katanya, merupakan jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi di dunia karena rasanya lebih halus dan aromatik. Tanaman ini tumbuh optimal di ketinggian 800–1.500 meter di atas permukaan laut. Namun, arabika lebih sensitif terhadap perubahan cuaca dan hama, sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif. Biji arabika berbentuk lonjong dengan garis tengah bergelombang. Karakternya beragam, dari cita rasa fruity, floral, citrus, hingga caramel, dengan tingkat keasaman yang lebih tinggi dibanding robusta. Di kebun kecil itu, obrolan mengalir tanpa sekat. Peserta bertanya tentang perbedaan rasa, teknik panen, hingga proses sangrai dan metode seduh. Kebun pun menjelma menjadi ruang kelas tanpa dinding, tempat belajar berlangsung di bawah langit terbuka. Sekitar satu jam kemudian, rombongan kembali ke kedai melewati permukiman warga. Keranjang kecil mereka terisi buah kopi merah yang baru dipetik. Senyum merekah di wajah-wajah yang lelah namun puas. Program edukasi ini telah berjalan hampir dua tahun. Akhir pekan biasanya menjadi waktu paling ramai, dengan peserta yang mayoritas datang dari luar daerah. Bagi Firman, kedai kopi bukan hanya tempat minum, melainkan ruang berbagi pengetahuan dan cerita. “Dari kopi, orang bisa belajar tentang pertanian, ekonomi lokal, dan lingkungan,” tuturnya. #ngabuburit #ramadhan2026 #petikkopi #edukasikopi #sumowono #lerenggunung #ungaran #kabupatensemarang #jawatengah Download aplikasi berita TribunX di PlayStore atau AppStore untuk dapatkan pengalaman baru Jangan sampai ketinggalan informasi terupdate dan berita pilihan Tribun Jateng. Ikuti saluran kami di WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaGG...