У нас вы можете посмотреть бесплатно Hidup Kedua siapa yang perduli или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Hidup Kedua? siapa yang perduli canon vocal, Rock punk, soft rock, ballad, full orchestra, violin diminished core, piano cry chromatic, indie, progressive metal, perfect sound, rock groove, rock pop, rock soul Viski Arditia November 16, 2024 at 6:39 PM [instrumental] [Verse] Hampir mati karena patah hati Muntah jatuh di kamar mandi [Verse 2] Bawa ke I-G-D waktu mati suri Harus operasi melawan hantu sepi [Chorus] "Hidup kedua" kini ku dapati Bangkit lagi dari kelamnya hari [Chorus 2] Mencari arti di antara garis Meski luka ("takkan pernah habis") [Verse 3] Berhenti kerja tak kuat berdiri Mencari pelarian dari rasa perih [verse 4] Hidup ini penuh misteri Kadang terjatuh kadang berdiri [Chorus] "Hidup kedua" kini ku dapati Bangkit lagi dari kelamnya hari [Chorus 2] Mencari arti di antara garis Meski luka ("takkan pernah habis") [interlude] [instrumental] [melody guitar] [spoken word solo] Hampir mati karena patah hati, Bukan kecelakaan, bukan sakit parah, Hati retak sedikit, lalu tiba-tiba, Muntah, jatuh, ke kamar mandi sepi. ("BOOOOMMMM!!!!") Bukan soal fisik, lebih mental overload, Bawa ke IGD, hidup hanya ilusi, "Apakah ini akhir?" tanya dalam hati, Mereka bilang, "Obati dengan pil, waktu." Operasi? Untuk melawan sepi ini, Musuh terbesar, hantu sepi yang datang, Berhenti kerja, kaki gemetar tak berdiri, Siapa butuh pekerjaan yang stabil, kan? Hidup penuh misteri, tebak-tebakan, Kadang jatuh, kadang berdiri, tapi… Jatuh lebih sering, rutinitas menjemukan, Jatuh lebih dalam, rasa yang membingungkan. Hidup kedua, katanya, aku harus bangkit, Kelamnya hari itu aku yang ciptakan, Mencari arti di garis yang kabur, Garis makin buram, semakin membingungkan. Nyasar di labirin, penuh rintangan, Luka tak hilang, jadi teman setia, Di ujung nadi kutemukan cahaya, Tapi hanya seujung jari, ilusi nyata. Meski suram, harus tetap bertahan, Mencari pekerjaan nyaman, tak mungkin, Beban menempel erat, tak bisa lepas, Seperti stiker yang tak terhapus lagi. Tak perlu sempurna, itu buat mereka, Cukup hidupkan asa yang nyata, Waktunya bermimpi besar, katanya, Tapi mimpi hilang ditelan angin. Jauh dari luka dan rasa kesal, Luka itu rumah, kesal kamar tidur, Hidup kedua, katanya, ini hidup keberapa? Bangkit lagi dari kelamnya hari-hari. Mencari arti di garis yang menghilang, Garis terhapus, aku berjalan tak tentu, Hidup kedua? Atau ketiga? Tak jelas, Aku hanya berputar-putar tanpa arah. Luka? Luka itu masih ada. Tapi, siapa yang peduli?