У нас вы можете посмотреть бесплатно Jalan Panjang Abu Sibreh: Dari Keluarga Biasa hingga Mengabdi Jadi Ulama Aceh | Cerita Para Kiai или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. TRIBUN-VIDEO.COM - Ia bukan lahir dari keluarga teungku atau garis keturunan pesantren. Tgk H Faisal Ali menapaki jalan keulamaan dari keluarga sederhana di Lamno, hingga menjadi ulama rujukan di Aceh. Dari Desa Janguet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya (Lamno), pada 7 Januari 1968, perjalanan itu dimulai. Di kampung sederhana itulah Tgk H Faisal Ali tumbuh, jauh dari bayang-bayang keluarga ulama besar. Ia yang kini akrab disapa Abu Sibreh, dikenal sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Namun jalan hidupnya sebagai ulama bukanlah warisan, melainkan pilihan yang lahir dari proses panjang. “Dari urutan dua ke atas yang sekarang ini, yaitu ayah dan kakek kami dalam keluarga itu tidak ada yang memang mendalami tentang ilmu agama secara khusus. Jadi kami (saya) yang mendalami itu sendiri,” tuturnya saat ditemui di pesantren yang diasuhnya, Rabu (4/2/2026). Meski bukan dari keluarga pesantren, benih kecintaannya pada dunia dayah tumbuh sejak kecil. Rumahnya berdekatan dengan Pesantren Budi Lamno. Ia kerap bermain di sekitar lingkungan pesantren dan menyaksikan kehidupan para santri. Kedekatan itu perlahan menumbuhkan tekad untuk mendalami ilmu agama. Pada 1985, setelah sempat bersekolah di SMU selama sekitar enam bulan, ia mengambil keputusan besar. Ia keluar dari sekolah umum dan memilih menuntut ilmu agama. Langkahnya membawanya ke LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen. Di sana, ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga dipercaya mengajar. Total pengabdiannya di Samalanga mencapai hampir 15 tahun. Tak hanya belajar, Abu Sibreh aktif dalam berbagai organisasi santri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Santri Kecamatan Lamno Jaya (1991–1993), Ketua Ikatan Santri MUDI Mesra Aceh Barat Selatan (1992–1998), hingga Ketua Koperasi Al-Barkah Samalanga (1994–1998). Pengalaman organisasi itu membentuk karakter kepemimpinannya. Ia juga pernah menjadi Sekretaris Umum Pesantren MUDI Mesra Samalanga, Wakil Sekretaris Rabithah Alumni MUDI Mesra, Ketua Nadhiriyah Rabithah Thaliban (1999–2000), serta Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) periode 2007–2014. Tahun 1999 menjadi titik awal berdirinya pesantren yang kini ia pimpin. Keluarganya membebaskan sebidang tanah untuk diwakafkan. Setahun kemudian, pada 2000, proses belajar-mengajar dimulai dengan hanya sekitar tujuh santri. “Jadi fasilitas yang pertama yang ada itu hanya satu balai (tempat mengaji). Di situ tempat belajar, di situ tempat sholat, di situ juga tempat tidur, juga sekaligus tempat masak,” kenangnya. Ia hidup bersama para santri selama lebih dari tiga tahun dalam keterbatasan. Bahkan sebelum berkeluarga, ia memilih memprioritaskan pendirian dan penguatan pesantren. Dari satu balai sederhana, Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah berkembang menjadi yayasan pendidikan yang menaungi lima lembaga: Dayah Salafiyah, SMP Islam Terpadu, SMK Mahyal Ulum, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah, serta unit pemberdayaan ekonomi seperti perkebunan dan peternakan. “Jadi ada sekitar lima lembaga sekarang ini di bawah Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah,” ujarnya. Abu Sibreh juga terlibat dalam dinamika sosial Aceh, termasuk pada momentum Referendum Aceh 1999 serta pembentukan Rabithah Thaliban dan SIRA. Namun baginya, keterlibatan itu adalah bagian dari tanggung jawab moral ulama, bukan ambisi politik. Ia bahkan kerap ditawari terjun ke politik praktis. Namun ia memilih tetap berada di jalur pengabdian. “Dalam bahasa Aceh itu ada kata-kata ‘ngui ban laku tuboh, pajoh ban laku atra’. Kita harus tahu diri dalam konteks tertentu,” tegasnya. Ia menolak menjadikan perbedaan politik sebagai dasar dakwah. Prinsip persatuan dan kemaslahatan umat menjadi pegangan utama. Seiring waktu, ia dipercaya mengemban berbagai amanah, mulai dari Wakil Ketua Pembina Forum Komunikasi Ulama Aceh Besar, hingga menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dan Ketua DPW Nahdlatul Ulama Aceh. Dalam hal regenerasi, Abu Sibreh tidak memaksakan anak-anaknya untuk meneruskan pesantren. Ia memberi kebebasan, namun berharap ada generasi yang menjaga dan mengembangkan lembaga tersebut. “Prinsipnya, lembaga pendidikan ini harus tetap jalan walaupun kita ini sudah tidak ada lagi di bumi ini,” ujarnya. Kepada generasi muda, ia selalu menekankan pentingnya ilmu. “Ilmu dulu, uang itu akan mengikuti,” katanya. Dari keluarga biasa di Lamno hingga menjadi ulama rujukan Aceh, perjalanan Abu Sibreh menunjukkan bahwa pengabdian lahir dari kesungguhan, bukan semata garis keturunan. Dengan kesabaran dan keteguhan pada ilmu, ia menapaki jalan panjang sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, persatuan, dan kemaslahatan umat. (Tribun-Video.com) Program: Cerita Para Kiai Editor Video: dharma aji yudhaningrat Uploader: Host: Bukhari M Ali