У нас вы можете посмотреть бесплатно Ceramah Agama Islam: Berdoa Hanya kepada Allah Ta'ala (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Sebuah video ceramah bertema “Berdoa Hanya kepada Allah Ta’ala” ini adalah dokumentasi dari kegiatan tabligh akbar yang diselenggarakan pada Ahad pagi, 10 Shafar 1437 / 22 November 2015, pukul 09:00 – 12: WIB di Masjid Pusdai, Jl. Diponegoro no. 63, Bandung. ceramah ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan disiarkan langsung oleh Rodja TV. Ceramah ini diangkat dari salah satu buku yang beliau tulis, berjudul “Doa dan Wirid” Rekaman audio: Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas – Berdoa Hanya kepada Allah Ta’ala Berdoa Hanya kepada Allah Ta’ala Pertama, dalam kita beragama Islam; kita bersyukur kepada Allah, pegangan kita Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahih menurut pemahaman salafush shalih. Dalam kita menjalani kehidupan ini, apakah kita beraqidah, beribadah, berdoa, atau yang lainnya, semua aktivitas kehidupan kita, itu kita harus kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Banyak penyimpangan terjadi disebabkan seseorang mengikuti tanpa ilmu, baik dalam beragama, beribadah, dan berdoa, yakni tidak punya ilmu dan dalil. Kita tidak boleh mengikuti / ikut-ikutan kepada seseorang tanpa dalil. وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿الإسراء : ٣٦﴾ “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra’ [17]: 36) Kedua, dari zaman Nabi-Nabi terdahulu, mereka selalu berdalil dengan alasan nenek moyang, (seperti) “Ini kan sudah kebudayaan,” “Ini adat-istiadat,” (maka) dalam agama kita tidak bisa (demikian); nenek moyang bukan ukuran kebenaran. Allah sebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّـهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ ﴿البقرة : ١٧٠﴾ “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al-Baqarah [2]: 170) Ketiga, yang sering dijadikan dalil oleh masyarakat adalah “orang banyak” dalam beragama, apakah (itu) ibadah, dzikir, doa, sholat, atau perayaan-perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak contohkan (yang) mereka adakan, kata mereka, “Orang banyak melakukannya.” (Maka) orang banyak bukan ukuran kebenaran, Allah dalam Al-Qur’an tidak pernah memuji banyaknya manusia, yang ada adalah celaan. وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿الأنعام : ١١٦﴾ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS Al-An’am [6]: 116) Mari simak video ceramah ini sekarang juga. Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=17599 Rodja.TV: http://rodja.tv/247