У нас вы можете посмотреть бесплатно Riwayat TUAN GURU BAKERI, GAMBUT | Perjuangan Anak Petani Menuntut Ilmu Agama или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Assalamualaikum wr wb ... Di video kali ini kita akan membagikan riwayat ulama Banjar, Tuan Guru Ahmad Bakeri al-banjari atau Guru Bakeri. Beliau adalah pendiri Pendiri Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Gambut. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik beliau juga dikenal sebagai tokoh penting organisasi Nahdatul Ulama Kalimantan Selatan. Beliau juga pernah menjabat sebagai pimpinan pengurus Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Sumber Cerita : Wikipedia https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ahmad... Sumber Media : https://alif.id/read/redaksi/ulama-ba... Selengkapnya, silahkan sanak simak video ini sampai habis. Terimakasih ... #kisahulama #Desabitin #Danaupanggang #amuntai #kalimantanselatan KH Ahmad Bakeri beliau lebih akrab disapa dengan sebutan Guru Bakri, lahir di Desa Bitin kecamatan Danau Panggang dan Berjarak 12 kilometer dari kota Alabio. Beliau adalah putera dari H. Imanuddin dan Hj. Sapura, dilahirkan tanggal 20 Mei 1959, merupakan anak keempat dari enam orang bersaudara yaitu Tarsih, KH.A.Tarmizi, Hj.Syamrah, Athiyah, Muhammad soebeli. Beliau Dibesarkan di lingkungan keluarga petani yang kental dengan nuansa ketaatan menjalankan ajaran Islam. Pada usianya yang ke-26, Ahmad Bakeri mengakhiri masa lajangnya dan menikah dengan Hj.Siti Rukayah, gadis pilihannya dari Gambut Kabupaten Banjar. Gadis yang dinikahi beliau pada tahun 1985 itu adalah anak guru H.Husni Abdullah. Dan telah dikaruniai empat orang anak, yaitu Muhammad Rasyid Ridha, Siti Zhafirah, Muhammad Samman, dan Hasan Al Munawwar. Pada tahun 1967, ketika Ahmad Bakeri masih berusia 7 tahun, beliau mulai belajar agama di Madrasah Ibtidaiyah Shalatiyyah di Desa Bitin kecamatan danau Panggang. Setelah menamatkan pendidikan tingkat Ibtidaiyah, belau kemudian melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di tempat yang sama. Semboyan yang popular dikala itu, hanya ada dua jalan untuk mencapai kemuliaan yaitu mencari harta atau mencari ilmu. Beliau Ahmad Bakeri memilih mencari ilmu. Sebab dengan ilmu, kemuliaan akan diperoleh di sisi Allah SWT dan di sisi manusia. Dengan ilmu pula, harta benda akan dating dengan sendirinya KH Ahmad Bakeri beliau suka menirukan ungkapan yang disampaikan gurunya, jika kamu menanam padi niscaya padi yang akan tumbuh. Jika kamu menanam rumput, pastilah padi tak akan tumbuh. Maksudnya, jika kamu mencari ilmu niscaya harta akan kamu dapatkan, jika kamu mencari harta, niscaya ilmu tak akan kamu dapatkan. Berkat keteguhan, disiplin, kerajinan, dan keuletannya dalam menuntut ilmu, setiap tahun Ahmad Bakeri naik kelas. Beliau selalu menempati peringkat pertama dikelasnya. Karena keberhasilan itu, beliau tak kuasa lagi menahan keinginannya untuk mengaji ke Serambi Mekkah Martapura. Cita-cita tersebut sempat terpendam hampir setahun, disebabkan alasan ekonomi. Namun pada tahun 1977 Ahmad Bakeri pada akhirnya berangkat juga ke Martapura dengan uang yang diperoleh dari menjual sepeda satu-satunya milik ayahnya. Dengan hanya membawa dua lembar baju, satu lembar celana, dan satu buah kopiah jangang, berangkatlah Ahmad Bakeri dengan membawa karung ‘galapung’berisi beras dan ikan sepat kering untuk bekal di perantauan kelak. Selama belajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura Ahmad Bakeri banyak mendapatkan pengetahuan agama yang bersumber dari kitab-kitab tradisi pesantren yang lazim disebut kitab kuning. Setidaknya ada lima belas kitab yang menjadi makanannya ketika masih duduk di kelas satu Aliyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura, dibawah asuhan KH.Syukeri Unus. Setelah bertahun-tahun belajar di Pesantren tersebut, tepatnya saat di kelas dua Aliyah mulai terlihat bakat Ahmad Bakeri untuk menjadi seorang juru dakwah. Dalam setiap perlombaan pidato yang diadakan oleh pesantren, Ahmad Bakeri selalu menjadi pemenangnya. Akhirnya pada tahun 1980, anak banua asal desa Bitin kecamatan danau panggang Hulu Sungai Utara ini berhasil menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Darussalam. Dalam ujian akhir, beliau menduduki peringkat kedua. Tekadnya untuk memperdalam ilmu agama semakin mendorong dirinya untuk mencari guru yang masyhur dan mursyid. Beliau sangat menekuni ilmu Nahu dan Sharaf, Fiqh, Tauhid, Tafsir dan Tasawuf. KH.Muhammad Zaini Ghani atau Abah guru sekumpul adalah guru yang banyak membentuk karakter pada diri beliau. KH Ahmad Bakeri berpesan pada diri beliau sendiri, jangan bermimpi menjadi pegawai negeri, karena kamu tidak mempunyai diploma. Jangan bermimpi jadi orang kaya, karena kamu tidak mempunyai harta. Maka jadilah orang yang berilmu karena akan mendapat kemuliaan di dunia dan di akhirat. KH Beliau meninggal dunia pada hari Jumat, 1 Februari 2013 di RSUD Ulin Banjarmasin dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Ponpes Al-Mursyidul Amin Gambut.