У нас вы можете посмотреть бесплатно Live...7 syarat utama bisa mencapai derajat puasa Khawasul Khawas. Tgk. Nuruzzahri. или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Istilah Puasa Khawasul Khawas (puasa tingkat paling istimewa) berasal dari klasifikasi puasa menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Ini bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan "puasanya hati" dari segala sesuatu selain Allah. Berikut adalah 6 hingga 7 syarat (adab) utama agar seseorang bisa mencapai derajat puasa Khawasul Khawas: 1. Menjaga Pandangan (Gadhul Bashar) Menahan pandangan dari segala hal yang tercela, dibenci agama, atau hal-hal yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah. 2. Menjaga Lidah Menjaga mulut dari perkataan yang tidak bermanfaat. Ini termasuk menghindari: Ghibah (menggunjing) Namimah (adu domba) Berdusta Berkata kasar atau kotor 3. Menjaga Pendengaran Menutup telinga dari segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan. Apa yang haram diucapkan, maka haram pula untuk didengarkan. 4. Menjaga Anggota Tubuh Lainnya Mencegah tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Termasuk juga menjaga perut agar tidak berbuka dengan makanan yang syubhat apalagi haram. 5. Tidak Berlebihan Saat Berbuka Tidak memuaskan nafsu makan secara berlebihan saat waktu berbuka tiba. Tujuannya agar maksud utama puasa—yaitu melemahkan nafsu syahwat—tetap tercapai. 6. Hati yang Cemas dan Berharap (Khauf wa Raja') Setelah berbuka, hati tetap merasa cemas (apakah puasanya diterima atau ditolak) namun tetap memiliki harapan besar kepada rahmat Allah. 7. Puasanya Hati (Shaumul Qalbi) Inilah inti dari Khawasul Khawas. Syarat utamanya adalah menjaga hati agar tidak memikirkan urusan duniawi yang rendah dan fokus sepenuhnya hanya kepada Allah. Jika hati sedikit saja berpaling pada selain Allah, maka puasa ini dianggap "batal" secara esensi dalam tingkatan ini.