У нас вы можете посмотреть бесплатно Perjalanan Datu Abdussamad Mempelajari Islam Hingga ke Mekkah - Jejak Guru #16 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
BANJARMASINPOST.CO.ID - Datu H Abdussamad Al Banjari merupakan cucu dari Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, atau yang familiar dikenal dengan sebutan Datu Kalampaian. Ayahnya bernama H Jamaludin bin Syekh Muhammad Arsyad Albanjari. Yang mana merupakan ulama tersohor di masanya dengan menguasai berbagai bidang ilmu agama. Datu Abdussamad sendiri di kalangan masyarakat Barito Kuala juga dikenal dengan sebutan Datu Abdussamad Bakumpai, karena masyarakat asli setempat merupakan suku Dayak Bakumpai. Dalam suatu riwayat yang disampaikan juru kunci makam Datu Abdussamad, H Muhammad Syafi'i, sebelum Datu Abdussamad datang dan mengajarkan agama Islam di di Tepian Sungai Barito ini, Datu Kalampaian pernah tersurat dalam ucapannya. Bahwa di masa mendatang akan ada keturunannya yang menjadi pemuka agama serta menebar pengetahuan Islam di Marabahan. Hal itu ia ucapkan ketika singgah sebentar saat dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Datu Sanggul di Rantau. "Berselang beberapa tahun, diutuslah H Jamaludin anak dari Datu Kalampaian untuk berdakwah di kawasan Marabahan. Menetap dan beristri orang sini hingga memiliki anak, salah satunya Datu Abdussamad ini," terang Syafi'i. Semasa kecilnya, Datu Abdussamad belajar ilmu agama dengan ayahandanya. Yakni H Jamaludin. Kemudian berumur cukup dewasa diperintahkan memperdalam ilmunya ke Martapura. Setelah beberapa tahun menghabiskan waktu menuntut ilmu di Martapura, Datu Abdussamad kembali ke Marabahan dan mulai menjalankan aktivitas dakwahnya di kalangan masyarakat. Hanya berselang tahun, ia pun disarankan oleh ayahnya kembali pergi ke Makkah untuk memantapkan keilmuannya. Nah di tanah suci Makkatul Mukarramah inilah beliau bertemu keponakannya, yakni Mufti Jamaluddin yang telah menimba ilmu sekitar 30 tahunan. Selama kurang lebih sembilan tahun menghabiskan waktu mengaji ilmu agama di Makkah, Datu Abdussamad Albanjari menerima mendapat arahan dari guru-gurunya untuk pulang ke tanah air. "Sebelum pulang, diadakanlah musyawarah bersama. Bagaimana bisa seorang Mufti Jamaludin yang menekuni ilmu agama selama 30 tahun belum diperkenankan pulang, sedangkan Abdussamad hanya berselang sembilan tahun mendapatkan mandat untuk bisa kembali ke kampung halaman," Papar Syafi'i mempertanyakan. Mudzakarah bersama pun dilakukan. Membahas ilmu hakikat, tarikat dan lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan salat bersama. Tanpa diperkirakan, Datu Abdussamad menghilang setelah mengangkat takbir dan kembali ketika hendak salam. Hal ini pun semacam menjadi petunjuk bagi Mufti Jamaludin bahwa keilmuannya sudah mencapai apa yang diharapkan. Sehingga wajar mendapat mandat guru-gurunya untuk bisa kembali ke kampung halaman guna menjadi pemuka agama. Masih dari penuturan Syafi'i, di masa itu Islam sudah hadir di Marabahan. Namun kedatangan Datu Abdussamad ke Bumi Bahalap lebih memantapkan sebaran dan pendalaman islam di Marabahan. Kiprah Datu Abdussamad dalam mengajarkan ilmu agama di Marabahan berkisar hingga usianya kurang lebih 80 tahun dan wafat pada tahun 1327 Hijriyah. Beliau pun dimakamkan di Marabahan, beralamat di Jalan Veteran, Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Marabahan. Kabupaten Barito Kuala. Di kawasan Alkah pemakaman Datu Abdussamad Albanjari juga terdapat banyak makam anggota keluarga pada garis keturunannya. Tidak jauh dari lokasi yang sama juga terdapat situs cagar budaya makam Panglima Wangkang, pejuang rakyat Bakumpai serta makam pendiri PS Barito Putera , Almarhum Haji Abdussamad Sulaiman HB atau yang biasa dikenal Haji Leman. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri) #JejakSangGuru #DatuAbdussamad