У нас вы можете посмотреть бесплатно Gagasan I'dadiyah dan Modernisasi Mangkoso: Ikhtiar AGH Faried Wadjedy Menjaga Mutu Pesantren или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #pesantren #ddimangkoso #ceritaparakiai #ramadan #puasa Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah arus perubahan pendidikan, AGH Prof Dr KH M Faried Wadjedy memilih satu sikap tegas: mutu pesantren tak boleh dikompromikan. Dari kegelisahan melihat ketimpangan pelajaran agama dan umum, ia melahirkan konsep I'dadiyah sebuah terobosan yang kini menjadi fondasi kualitas di Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Lahir di Lapasu, Kabupaten Barru, 22 Juni 1943, AGH Faried Wadjedy ditempa sejak muda dalam tradisi kepesantrenan. Sejak 1955 ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, lembaga yang kelak ia pimpin. Pendidikan dasarnya ia selesaikan di SRN Mangkoso (1955), kemudian melanjutkan pendidikan agama di Pesantren DDI Mangkoso (1955–1966). Ia meraih gelar Sarjana Muda di Fakultas Syariah Universitas Islam Addariyah DDI Mangkoso (1970). Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Mesir: S-1 (Lc) di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar (1980) dan S-2 (MA) di Fakultas Darul Ulum Cairo University (1984). Pada 2008, ia dianugerahi gelar Profesor Doctor Honoris Causa dari Kolej University Insaniah Kedah, Malaysia. Kegelisahan yang Melahirkan Pembaruan Sekembalinya dari Kairo, Faried melihat adanya ketimpangan capaian antara pelajaran umum dan agama. Sejumlah santri telah menuntaskan jenjang tsanawiyah secara umum, tetapi kemampuan agamanya masih tertinggal. “Kadang siswa sudah tamat tsanawiyah umumnya, tapi agamanya masih tertinggal setahun,” kenangnya. Dari situ muncul gagasan pemerataan derajat ilmu melalui kelas persiapan satu tahun sebelum masuk jenjang formal. Program itu kemudian dikenal sebagai I'dadiyah dan mulai diterapkan pada 1985. Dalam masa tersebut, santri baru dibina secara intensif dalam baca tulis Arab, tauhid, fiqh, dan dasar-dasar ilmu agama. Konsekuensinya, mereka memang menempuh pendidikan lebih lama dibanding sekolah umum. Namun hasilnya, ketika memasuki jenjang formal, pelajaran umum dan agama berada pada level yang seimbang. Diskusi Alot dengan Gurutta Gagasan tersebut tidak serta-merta diterima. Diskusi panjang terjadi antara Faried dan gurutta, AGH Abdurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI yang sangat dihormati. “Alot juga diskusi itu dengan gurutta, baru diterima,” tuturnya. Namun satu pesan yang selalu ia pegang teguh adalah amanah gurutta: kualitas Mangkoso tidak boleh menurun. I'dadiyah pun menjadi instrumen untuk memastikan standar pendidikan tetap terjaga. Isyarat dan Perluasan Pesantren Selain pembaruan kurikulum, sejarah pengembangan fisik pesantren juga memiliki kisah tersendiri. Faried mengisahkan pernah mendapat isyarat melalui mimpi bahwa pesantren akan berkembang besar dan kawasan lama tak lagi mencukupi. Ia kemudian menghubungi Wali Kota Parepare saat itu, Mansur Sultan. Pemerintah memberikan sejumlah lahan berstatus girik (GG) milik pemerintah untuk pengembangan pesantren. Langkah tersebut membuka jalan bagi perluasan fasilitas dan pertumbuhan jumlah santri yang terus meningkat. Menjaga Tradisi, Merawat Modernisasi Kini, selain memimpin Pondok Pesantren DDI Mangkoso, AGH Faried Wadjedy juga mengemban amanah sebagai anggota Majelis Syuyukh PB DDI (2022–2027) dan Ketua Umum MUI Kabupaten Barru. Baginya, modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Pembaruan justru dilakukan untuk memperkuat fondasi keilmuan agar pesantren tetap relevan tanpa kehilangan ruhnya. Konsep I'dadiyah menjadi bukti bahwa pembaruan lahir dari kegelisahan akademik, keberanian berdialog dengan guru, dan komitmen menjaga mutu. Di tangan AGH Faried Wadjedy, Mangkoso tidak hanya merawat warisan, tetapi juga berani beradaptasi. Sebab bagi dirinya, kualitas adalah Amanah dan amanah itu harus dijaga, meski harus menambah satu tahun perjalanan belajar bagi para santri.(Tribuntimur.com) (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks YouTube business inquiries: 081144407111 Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur