У нас вы можете посмотреть бесплатно Aliansi Masyarakat Luwu Raya Kembali Gelar Aksi, Tutup Jalan Poros Makassar-Palopo или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #luwuraya #pemekaran #demonstrasi #tokohmasyarakat #orasi Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Aksi demonstrasi elemen masyarakat, pemuda, dan mahasiswa menuntut Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya-Kabupaten Luwu Tengah terus menggema di Kabupaten Luwu. Aliansi Masyarakat Luwu Raya kembali berunjuk rasa di Jl Poros Makassar-Palopo, Kelurahan Benepute, Kecamatan Larompong Selatan. Mobil bak terbuka berwarna hitam dibuat melintang menutup penuh badan jalan. Didekatnya ada timbunan tanah yang sengaja ditumpahkan. Mengakibatkan ruas jalan provinsi itu tidak bisa dilalui oleh pengendara. Tak jauh dari lokasi demonstran berorasi spanduk bertulis "Aliansi Masyarakat Luwu Raya Sahkan Luwu Tengah Menuju Provinsi Luwu Raya" dibentangkan. Aksi unjuk rasa ini menarik simpati elemen masyarakat. Selain mahasiswa, masyarakat juga terbuka mendukung aksi yang menuntut pembentukan DOB Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah. "Mendukung apa yang dilakukan adik-adik mahasiswa. Tentunya ini meneruskan semangat kami," jelas warga, Anton Arif yang juga ikut berorasi di jalan, Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 16.17 Wita sore. Anton Arif menyebut, tuntutan DOB lahir dari keresahan Wija to Luwu yang selama ini dikesampingkan dalam pembangunan. Kendati demikian, ia merasa sebagai suatu daerah yang padu, Provinsi Luwu Raya harus segera diwujudkan. "Tetapi sudah saatnya, Luwu yang dulu menjadi satu menjadi provinsi. Karena Luwu Raya menjadi harga mati," beber tokoh masyarakat Larompong Selatan itu. Dihadapan pengendara yang kendaraannya terpaksa tidak bisa melintas, Anton Arif mengungkapkan maaf. Kata dia, blokade jalan ini jadi salah satu langkah agar tuntutan DOB Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah didengar oleh elit pemerintah pusat. "Apabila adik-adik mahasiswa, melakukan aksi damai ini, tidak menutup jalan, tidak akan didengar," ungkapnya. Salah satu demonstran mengaku agenda ini menjadi lanjutan setelah aksi unjuk rasa yang dilakukan pada, Jumat (23/1/2026) lalu. Bertepatan dengan momen Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80. Aksi unjuk rasa itu sempat viral setelah demonstran dibantu warga sekitar kompak mengecor badan jalan dengan tumpukan batu dan semen. "Ini aksi kedua, setelah melakukan aksi sebelumnya di batas Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo," ujarnya. Demonstran itu menambahkan, adanya DOB Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah jadi satu jalan bagi pemerataan pembangunan. Ia mencontohkan keadaan Kecamatan Seko dan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, yang selama ini merana. Salah satunya marena akses jalan menuju kampung yang sangat ekstrem. Di Seko dan Rampi juga dikenal "ojek termahal di Indonesia". Biayanya bahkan bisa menyentuh Rp900 ribu hingga Rp1 jura untuk sekali antar. "Selain pemerataan pembangunan, kita juga melihat fakta sejarah. Presiden Soekarno memberikan janji kepada Datu Luwu Andi Djemma untuk menjadi daerah yang merdeka atau otonomi khusus," terangnya. Demonstran itu juga menyentil sikap Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman yang tak menunjukkan empati kepada perjuangan Wija to Luwu. "Kita melihat, aksi demonstrasi yang terjadi di Walmas selama lima hari kemarin. Tapi kita melihat reaksi Gubernur Sulsel Andi Sudirman malah sibuk bermain bola," tandasnya. Reporter: Muh Sauki Maulana Editor Video : Sanovra J. R Narator : Rasni Gani (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ YouTube business inquiries: 081144407111