У нас вы можете посмотреть бесплатно SYAIHUNAL MUKARROM (AL-HASANIYAH) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
SYAIHUNAL MUKKAROM Rilis : 5 Mei 2021 (Youtube) Label : Al-HAsaniyah Produser : Drs. H. Mansur Hasan Kordinator : Abdul Gani,S.Pd Arransement : Rusli Ciptaan : H. Jarkoni,S.Pd.I Vocal : Dewi Lestari & Ahmad Padil Backing Vocal : Group Sholawat Al-Hasaniyah ____________________________________________ KIAI HASAN: SEORANG SANTRI KELANA Di dalam perkelanaan menuntut ilmu, pemuda ini mengganti namanya dari Ujang menjadi Hasan atas saran dan bimbingan gurunya, KH. Salim Baros. Mulai saat itu orang-orang tidak lagi memanggilnya Ujang. Pada usia 20 tahun, Hasan meninggalkan orang tuanya dan kampung halaman untuk melakukan perjalanan ilmu pasca mendalami keilmuan dasar di bawah bimbingan KH. Abdurrahim. Atas dorongan Kakak (H. Mali) dan Gurunya (KH. Abdrurrahim), Hasan berangkat menuntut ilmu ke Kampung Lengkong Kiai di bawah didikan KH. Under dan KH. Salim Baros pada sekitar tahun 1936. Saat ini Lengkong Ulama adalah sebuah dusun di Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lengkong Ulama berada pada wilayah daratan rendah yang dikelilingi oleh Sungai. Dari dulu hingga sekarang kampung ini telah mencetak banyak ulama yang tersebar di Tangerang dan sekitarnya. Lengkong juga terkenal memiliki keterampilan kaligrafi yang diakui dunia Internasional. Selama kurang lebih 6 tahun beliau menimba ilmu agama dengan mengkaji kitab-kitab turats peninggalan ulam-ulama terdahulu dibawah bimbingan Kiai Under yang dibantu oleh KH. Salim. Kiai under adalah salah satu Kiai di kampung tersebut yang menjabat sebagai Ketua KUA. Sedangkan Kiai Salim berasal dari Baros-Serang yang diminta Kiai Under untuk menjadi sebagai badal (pengganti) mengajar ditengah kesibukan beliau menjadi pejabat pemerintah. Hasan muda belajar dengan semangat penuh di kampung ulama ini. Bahkan Hasan sangat dekat dengan kedua gurunya ini. Selama pesantren di Lengkong Kiai, Hasan memiliki keistimewaan lebih dibanding teman-teman sebayanya, yaitu berupa kecerdasan yang di atas rata-rata. Ia tetap gigih menuntut ilmu meskipun di tengah keterbatasan ekonomi, pasalnya perjalanan pesantrennya dibiayai oleh Kakak dan dibantu oleh sang Guru, KH. Abdurrahim. Kegigihanya menutut ilmu menjadi sebuah harapan besar sebagai bagi Kakak dan Gurunya yang memiliki cita-cita besar untuk melakukan perubahan di tengah masyarakatnya dengan tokoh pembaharu dalam dakwah di Rawalini dan sekitarnya. Dari kesederhanaan dan kegigihan tersebut, Hasan menjadi murid kesayangan gurunya di Pesantren Lengkong Kiai. Di tengah keberlangsungan pesantren di Lengkong Kiai, Hasan banyak melakukan tirakat serta riyad}ah badaniyah dan ruhaniyah, sehingga ia mendapatkan futuh ilmu berupa kemudahan, kecerdasan dan ketenangan jiwa. Ilmu apapun akan mudah masuk ke dalam qalbu, jika seseorang mampu mengakses energi kedamaian dengan mengelola empat titik medan nafsunya dengan beriyad}ah yang iringi dengan semangat menuntut ilmu secara empirik. Saat Kiai Salim pulang ke Baros untuk mendirikan pesantren, Hasan pun ikut untuk mengaji lebih lanjut dengan beliau. Setelah belajar beberapa bulan, Hasan kembali lagi ke Pesantren Lengkong untuk melanjutkan proses ta’lim di sana sampai pemuda ini dijemput untuk pulang ke Kampung halamannya di sekitar tahun 1940. Selain ke pesantren Lengkong Kiai, Hasan juga memperdalam ilmu pengetahuan agama kepada KH. Mansur Jembatan Lima Jakarta. Bahkan setelah menjadi tokoh di Kampungnya, Hasan tetap rutin ngambah ilmu setiap minggunya kepada KH. Mansur sampai gurunya wafat di tahun 1967. Guru Mansur lahir pada 31 Desember 1878 yang merupakan warga asli Kampung Sawah, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Ia adalah seorang ulama besar yang namanya diabadikan menjadi nama masjid di wilayah Tambora. Bagi masyarakat Betawi, nama Guru Mansur merupakan tokoh yang begitu disegani. Tak hanya sebagai ulama kondang, namun juga sebagai pejuang yang ikut berjibaku melawan rintangan. Beliau dikenal sebagai ulama ahli falak. Pantas saja Kiai Hasan meskipun sudah berumah tangga, beliau tetap mengambah ilmu kepada Guru Mansur yang menjadikan Kiai Hasan ahli dalam ilmu falak secara utuh. Sepeninggalan Kiai Hasan, Kampung Rawalini masih menggunakan kitab Sullam An-Nayrain yang merupakan kitab ilmu falak yang menjadi rujukan dan dipelajari di sebagian pesantren di Tanah Air sampai di negara tetangga. Bahkan kitab Sullam An-Nayrain juga mendapat perhatian khusus dari para astronot modern untuk dipelajari. Disamping mengaji kepada Guru Mansur, beliau pun menuntut ilmu sampai akhir hayatnya kepada KH. Soleh Ali Tangerang, yang dikatakanya sebagai “Ngaji Politik” Jumat, 30 Juli 2021 Haul ke 34