У нас вы можете посмотреть бесплатно Hikikomori, Gejala & Intervensinya или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#SeriPsikologi @AcityaBhasvara Video ini mengantarkan pada pemahaman tentang hikikomori. Hikikomori, terma dalam bahasa Jepang, dicetuskan kali pertama oleh Tamaki Saito pada 1998. Ia merujuk pada kondisi kompleks seseorang yang ditandai dengan penarikan diri sosial secara ekstrem. Kompleksitas itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik individu, lingkungan sosial, lingkungan profesional tempat bekerja, keamanan, ekonomi maupun belief. Seseorang yang menderita hikikomori dicirikan dengan upaya mengisolasi diri dari komunitas. Pada level akut, mereka acapkali menghabiskan waktu selama bertahun-tahun bahkan untuk mengasingkan diri. Mereka menghindari interaksi sosial dan terlebih bisa mengabaikan kebutuhan dirinya yang paling mendasar. Hikikomori awalnya merupakan budaya yang dijalani oleh mereka yang telah selesai dalam hidupnya. Konteksnya untuk mencari ketenangan dan berkontemplasi. Gejala seperti ini terjadi di banyak negara yang telah menggantikan aktivitas dengan teknologi super moderen. Tak asing, jika kemudian didapati juga birth-rate mendekati zero. Namun belakangan ini, budaya itu bergeser secara eufismistik sebagai terma bermakna berbeda yang gejalanya dialami oleh kaum remaja yang masih produktif. Ia kemudian oleh Saito dipotret sebagai penyimpangan sosial. Berbagai argumentasi di balik hikikomori bersifat multifaset dan dapat bervariasi dari individu satu ke individu lainnya. Kecemasan sosial yang intens dapat membuat individu tersebut merasa kewalahan untuk terlibat dalam situasi sosial itu. Mereka boleh jadi takut akan penilaian, penolakan, atau kegagalan pada diri sendiri secara distopis. Trauma masa lalu dan peristiwa traumatis lainnya dapat pula menyebabkan penarikan diri secara berlebihan. Stres akademik atau pekerjaan dapat pula berkontribusi pada perasaan tidak layak, tidak memadai dan mendorong individu itu untuk menarik diri dari kehidupan sosial. Kondisi kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau fobia sosial, dapat memperburuk isolasi sosial. Nah, apa konsekuensinya? Konsekuensi dari hikikomori dapat mempengaruhi individu itu sendiri maupun lingkungan terdekatnya. Penarikan diri sosial yang berkepanjangan bisa menyebabkan penurunan kecakapan sosial. Masalah kesehatan fisik dan pola hidup berpotensi berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk melemahnya sistem imunitas tubuh, bahkan mengubah ritme jam biologi tubuh yang mengatur produksi hormon, baik melatonin, growth hormone, serotonin maupun adrenalin. Menangani hikikomori membutuhkan pendekatan multifaset, tentunya, termasuk upaya reintegrasi sosial dan pengenalan kembali secara bertahap ke dalam lingkungan sosialnya. Upaya penyadaran lingkungan tentang hikikomori menjadi penting dilakukan sebagai mitigasi untuk mereduksi stigma dan mendorong intervensi dini. Pahamilah bahwa kompleksitas lingkungan dapat mempengaruhi level tekanan psikosomatik yang menjadi musabab melahirkan kompleksitas hikikomori. Kepada individu pelaku hikikomori, dapat dilakukan strategi komprehensif untuk dapat terus bekerja memutus siklus isolasi dan membantunya meraihnya kembali koneksi mereka dengan lingkungannya. Hikikomori, gejala perilaku sosial individu yang sepatutnya dideteksi secara dini untuk solusi sosial pada titik akupunktur dari sebuah system thinking.