У нас вы можете посмотреть бесплатно Terjebak di Darat, Nelayan Paotere Isi Waktu dengan Perbaiki Jaring dan Bercengkerama или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #RatusanNelayan #Pelabuhanpaotere #makassar #cuacaekstrem #nelayan #tidakmelaut Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ratusan kapal motor nelayan mejeng di Pelabuhan Paotere, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/1/2026) sore. Pelabuhan rakyat peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo itu berlokasi Jl Satando, Kelurahan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Utara Kota Makassar. Pantauan tribun, jejeran kapal motor nelayan memadati dermaga ini pelabuhan legendaris ini. Nelayan enggan melaut akibat angin kencang disertai ombak tinggi di laut kawasan Selat Makassar. Mereka pun mengisi waktu lowong dengan beraktifitas santai. Ada yang sibuk memperbaiki jaring, ada juga yang menikmati waktu sore sambil berbincang. "Sudah satu Minggu ini tidak keluar melaut," kata Sahrul (27) dihampiri saat asik berbincang dengan ABK-nya. Sahrul adalah nahkoda kapal motor berkapasitas angkut satu ton ikan dengan empat orang ABK. Ada puluhan kapal motor seukuran kapal Sahrul yang berjejer di dermaga. Akibat sepekan tak melaut, nelayan asal Pulau Longkoitang Kabupaten Pangkep itu, pun harus mengeluarkan uang lebih untuk kebutuhan makan. "Ketinggian ombak sekarang ini lebih satu meter. Belum ada info kapan diperbolehkan melaut," ucap ayah dua anak ini. Hal senada diungkapkan, Dandi (26) nahkoda sekaligus pemilik KM Jirana. Dandi mengaku sudah hampir sebulan tidak keluar mencari ikan lantaran kondisi cuaca yang kurang bersahabat. "Ini masih menunggu cuaca baik baru melaut. Sudah hampir satu bulan (tidak melaut), sekalian kerja jaring," kata Dandi di sela memantu aktivitas ABK-nya memperbaiki jaring. Dandi mengaku kerap mencari ikan dan sekitar Pulau Pandangan, Kabupaten Pangkep. "Cuaca memang tinggi ombak, tingginya 2,6 meter di Kepulauan Pangkep,' kata Dandi. Dengan kapal berkapasitas angkut hingga tujuh ton miliknya, ia hanya diperbolehkan mencari ikan di atas 12 mil dari bibir pantai. Dan ayah satu anak ini, punya dua kapal seukuran serupa. "Iya, ada aturan yang dikeluarkan. Izin pusat tidak boleh mencari ikan dalam 12 mil, harus di luar 12 mil (daratan)," sebut nahkoda dengan 13 ABK ini. Akibat cuaca buruk itu, kata dia, harga ikan yang dijual dari nelayan ke pelelangan turut naik. Seperti ikan cakalang, jika di hari normal dijual ke pelelangan seharga Rp1,1 juta per gabus (75 kilogram) saat ini dijual di harga Rp1,7 juta. Saat ini, Dandi dan ABK-nya sudah tampak mengisi bagasi dengan es balok. Ia berharap tiga hari ke depan cuaca mulai bersahabat agar dapat melaut. Reporter : Muslimin Emba Editor Video : Sanovra J. R Narator : Rasni Gani (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ YouTube business inquiries: 081144407111