У нас вы можете посмотреть бесплатно Mengapa Hanya Satu yang Layak Jadi Raja? | Ngaji Filsafat Dr. Fahrudin Faiz или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Mengapa dalam banyak tradisi, cerita, dan pemikiran filsafat, hanya satu yang dianggap layak menjadi raja? Apakah kepemimpinan memang harus tunggal? Ataukah ini hanya simbol dari sesuatu yang lebih dalam? Melalui kajian Ngaji Filsafat bersama Dr. Fahrudin Faiz, M.Ag di channel Culvuy Room, pertanyaan mendasar tentang kekuasaan, kepemimpinan, dan makna “yang satu” dikupas secara filosofis, kritis, dan reflektif. Dalam kajian ini, Dr. Fahrudin Faiz mengajak kita memahami konsep “yang satu” dari berbagai sudut pandang filsafat. Dalam filsafat klasik, khususnya pemikiran Plato dan Aristoteles, kepemimpinan ideal bukan soal banyaknya orang yang berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling bijaksana dan paling mampu mengendalikan diri. Raja dalam pengertian filsafat bukan sekadar penguasa politik, melainkan simbol dari akal sehat, kebijaksanaan, dan kendali atas hawa nafsu. Pertanyaan “mengapa hanya satu yang layak jadi raja” juga berkaitan dengan konflik kepentingan. Ketika terlalu banyak keinginan, ambisi, dan ego yang ingin berkuasa, yang terjadi justru kekacauan batin dan sosial. Filsafat mengajarkan bahwa dalam diri manusia pun seharusnya hanya ada satu “raja”, yaitu akal yang sehat dan nurani yang jernih. Jika hawa nafsu, amarah, dan keserakahan ikut berkuasa, hidup menjadi tidak seimbang. Dr. Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa konsep ini relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak masalah hidup muncul bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena terlalu banyak “raja” dalam diri kita: keinginan untuk diakui, rasa takut tertinggal, ambisi berlebihan, dan dorongan untuk selalu menang. Ngaji filsafat ini membantu kita merenung, siapa sebenarnya yang sedang memimpin hidup kita saat ini. Dalam perspektif filsafat Islam, konsep keesaan juga memiliki makna mendalam. Tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tetapi juga prinsip hidup. Ketika hidup memiliki satu orientasi utama, manusia menjadi lebih tenang, fokus, dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan dunia. Dari sinilah lahir etika kepemimpinan, baik memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain. Kajian Ngaji Filsafat ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga mengajak kita bercermin. Apakah kita sudah menjadi raja bagi diri sendiri? Ataukah hidup kita justru dikuasai oleh emosi, ego, dan dorongan sesaat? Dengan gaya khas yang santai, logis, dan penuh kedalaman, Dr. Fahrudin Faiz menyampaikan filsafat sebagai alat untuk memahami hidup, bukan sekadar wacana akademik. Video ini sangat cocok untuk kamu yang tertarik pada filsafat kepemimpinan, makna kekuasaan, pengendalian diri, dan pencarian makna hidup. Baik untuk pelajar, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin berpikir lebih dalam tentang hidup dan peran manusia di dunia. Tonton kajian ini sampai selesai di Culvuy Room agar tidak kehilangan benang merah pembahasan. Semoga setelah menyimak Ngaji Filsafat ini, kita mampu menata hidup dengan lebih sadar, menempatkan akal sebagai pemimpin, dan menjalani kehidupan dengan lebih bijak. Jangan lupa like jika kajian ini bermanfaat, tuliskan pemikiranmu di kolom komentar, dan bagikan ke teman-teman yang suka refleksi dan diskusi mendalam. Subscribe channel Culvuy Room agar tidak ketinggalan kajian Ngaji Filsafat Dr. Fahrudin Faiz dan konten filsafat menarik lainnya. #ngajifilsafat #filsafatkepemimpinan #fahrudinfaiz #filsafathidup #maknahidup #culvuyroom #refleksifilsafat