У нас вы можете посмотреть бесплатно Ternyata ada ini di Gili Labak, Madura, mentjengangkan..!!! или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Gili Labak, Pulau kecil yang berada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur jadi tujuan trip kami 18 - 21 Agustus 2017. Kami menggunakan jalur darat dengan kereta api Jayabaya dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.00 menuju Surabaya, Pasar Gubeng habisin waktu 11 jam. Pantat pegel, hampir mati gaya, leher kaku karena bangkunya tegak banget. Waktu perjalanan dimanfaatin banget buat makan. Di Pasar Gubeng, tim dari Surabaya sudah stand by untuk menjemput kami di Pasar Gubeng menggunakan elf. Dari Pasar Gubeng, kami melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam menuju Sumenep untuk transit menggunakan perahu menuju Pantai 9, sebelum ke Pulau Gili Labak. Sekitar pukul 4 pagi kami tiba di Sumenep bertemu dengan peserta lain untuk shalat Subuh dan sarapan sebelum menyebrang. Pukul 6 pagi kami bersiap meninggalkan dermaga menuju Pantai 9 dengan perjalanan di laut terombang ambing selama 1,5 jam. Jam 7.30, tiba di Pantai 9, air lumayan pasang, pasir putih, beberapa cottage yang unik menyediakan fasilitas tv, kasur, listrik nyala disiang hari, dan juga ada kantor polisi sampai-sampai ada mobil di pantai. Gimana ya cara mobilnya bisa ada di pulau?? Ada masjid yang cukup terlihat mewah. Pantai 9 sepertinya sudah lebih modern dan terawat. Sayangnya waktu dari tim pelaksana di Pantai 9 cuma 1 jam jadi harus dipuas-puasin "take a moment" area sekitar. Jam 8.30 bersiap kembali menuju Gili Labak dengan perkiraan sampai 1 jam perjalanan terombang ambing kembali. Tiba di Gili Labak 09.30, persiapan sebelum snorkling dimulai dengan mengecek "homestay" dan simpan barang. Homestay di Gili Labak masih sangat tradisional, rumah yang dibatasi dengan triplek ini menggunakan atap asbes. pintu kayu triplek, beralaskan tikar dan bagian samping atap tidak tertutup rapat. Kunci di bagian pintu juga tidak ada. Listrik menyala bila air di tangki/kolam kamar mandi sudah habis atau menunggu sampai jam 5 sore untuk waktu pemasangan genset. Lokasi toilet diluar homestay, dengan tarif toilet Rp 2.000 (sampai mau bikin member biar bayar lebih murah ^_^). Airnya pun asin. Ada air tawar tapi 1 bak dihargain Rp 10.000. Nah di pulau ini ada mushola tapi di "homestay" yang kami sebut "bedeng" juga ada tempat untuk shalat. Jam 10.30 time to snorkling…masing-masing udah ambil posisi di kapal karena menurut ABK waktu ke lokasi "tidak lama" tapi tetap bersiap mabok. Tidak lebih dari 20 menit sudah sampai di lokasi snorkling yang sebenarnya jarak dari bibir pantai sekitar 5 km. Kapal Cuma harus berputar untuk parkir di laut. Beda banget klo ke Pahawang yang butuh perjuangan lebih ke lokasi untuk snorkling dan ada beberapa tempat snorkling. Di Gili Labak, kita bisa puas snorkling tanpa berpindah tempat karena lokasinya Cuma disekeliling pulau atau bibir pantai. Untuk ke depannya semoga kakak yang handle trip Gili Labak bisa nemuin spot-spot baru selain dekat bibir pantai biar ga monoton. Dan ada juga beberapa peserta setelah snorkling pertama langsung balik ke Sumenep karena mereka pakai yang "one day trip". Capek perjalanan belum hilang, tapi harus balik ke Sumenep dan trip selesai. Tim kita pakai yang 2 days trip yang di itenary besok ke Bebek Sinjay ( tempat makan terkenal di Madura) dan juga ke Bukit Jaddih (bukit kapur yang jadi tempat wisata). Fasilitas yang masih sangat sederhana, lingkungan sekitar yang mayoritas rumah masih menggunakan triplek, bambu, kayu ini sepertinya belum diperhatikan dengan sangat oleh pemerintah setempat. Berbeda dengan Pantai 9. Penduduk yang rela berjam-berjam menunggu sebagai penjaga toilet sepertinya memang itu menjadi pokok mata pencaharian. Tapi memang harga diwarung Gili Labak lebih murah dari pada jajan di Pantai Ancol. Harga 1 buah kelapa Cuma Rp 10.000, pop mie Rp.7.000, Indomie Rebus/Goreng pake telor Cuma Rp 7.000, kalo sama nasi nambah Rp 3.000. The Pucuk Rp 4.000. Padahal mereka bawa barang-barang itu harus nyebrang pulau dan butuh biaya yang ga murah.