У нас вы можете посмотреть бесплатно Anakku Berkata, “Jangan Harap Aku Merawatmu Di Usia Tua, Aku Punya Keluarga Sendiri!”—Tapi Besoknya… или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Anakku berkata dengan lantang, "Jangan harap aku akan merawatmu yang sudah tua renta begini! Aku sudah punya keluarga sendiri!" Aku hanya tersenyum dan segera mengubah surat wasiat yang akan membuatnya sangat menyesal. besoknya, dia jadi gelandangan. Namaku Rohayati, usiaku sudah menyentuh 70 tahun, usia yang sebenarnya tak ingin kualami. Semua bukan tanpa sebab, tapi rasanya aku sudah tak ingin berselisih dengan berbagai masalah. Tapi, mungkin ini memang jalan Tuhan untuk sisa hidupku, menguji seberapa kuat kemampuanku. Hari itu, aku sedang menuang teh ke dalam cangkir ketika suara motor berhenti di depan rumah. Suara knalpot yang sudah kukenal, jantungku langsung berdegup lebih cepat. "Itu kayaknya Roni sama Gita," gumamku sendiri. Aku buru-buru merapikan taplak meja yang sudah mulai pudar warnanya. Usia boleh 70, tapi refleksku masih lumayan. Kusapukan lagi pandanganku ke ruang tamu. Sofa tua, lemari kaca dengan cangkir-cangkir hadiah murid zaman dulu, foto almarhum suamiku di dinding. Rumah ini kecil, tapi hampir seluruh hidupku habis di sini. Pintu diketuk singkat lalu langsung terbuka. Bu Roni masuk tanpa senyum. Kemeja kantoran masih dipakai, ujungnya keluar dari celana. Gita menyusul di belakangnya, tas selempang digenggam erat. Wajahnya kelihatan lelah tapi matanya waspada. "Eh, iya, iya. Masuk. Ibu bikinin teh, ya. Sudah lama enggak main," kataku berusaha ceria. Mereka duduk. Roni langsung menyalakan ponsel. Ibu jarinya lincah menggulir layar. Gita mengusap-usap roknya, melirik sekeliling seperti menilai ulang segala sesuatu di ruang tamu ini. "Sandra sama Rozi mana?" tanyaku. "Di rumah, Bu," jawab Gita. "Besok ulangan, jadi belajar." Aku mengangguk. Ada rasa kecewa yang cepat-cepat kutelan. Sudah lama aku tidak memeluk cucu-cucuku. Biasanya, hanya lihat mereka lewat foto yang dikirim Gita. Itu pun jarang. Kutaruh dua cangkir teh di meja. "Gimana kerjaan, Ron?" Ia menghela napas berat, seolah dunia menindih bahunya saja. "Biasa, Bu. Target naik. Gaji segitu-gitu aja. Cicilan rumah, cicilan mobil, sekolah anak, semua nempel di kepala." Gita menimpali, "Iya, Bu. Sekarang hidup serba mahal. Listrik, air, apa-apa naik, apalagi Roni sendirian yang menanggung semua." Aku duduk perlahan di kursi seberang mereka. Lututku berdecit pelan, tapi sudah biasa. "Ibu ngerti, makanya ibu selalu doain kalian." Suasana sejenak hening, hanya terdengar bunyi jam dinding dan suara motor lewat di jalan depan. Roni meletakkan ponsel. "Ngomong-ngomong, Bu, kemarin aku ketemu sama notaris yang dulu ngurus sertifikat rumah ini." Hatiku berdesir. "Kenapa sama sertifikat?" "Enggak, cuma ngecek aja. Kan sertifikat rumah ini atas nama aku sekarang. Jadi, kalau ada apa-apa urusannya gampang," ucapnya. Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak tenang. Aku mengangguk pelan. Dulu, waktu dia baru menikah, akulah yang memaksa rumah ini dibalik nama. Kupikir kalau aku sudah enggak ada, semua urusan jadi lebih mudah buat dia. Saat itu aku bangga, merasa berhasil memberi masa depan untuk anakku satu-satunya. Sekarang, tiba-tiba keputusan itu terasa seperti pisau yang kuarahkan sendiri ke dadaku. Aku menarik napas. Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur memikirkan hal yang sama. "Ron," suaraku pelan. "Ibu mau ngomong sedikit." Roni menyandarkan punggungnya, bersiap. Gita menajamkan telinga. "Ibu, belakangan ini sering sakit. Jalan juga udah enggak kuat jauh. Kadang kalau malam ibu enggak bisa tidur sendirian terus di rumah. Ibu kepikiran, apa ibu bisa pindah ke rumah kalian? Enggak usah kamar gede, pojokan aja, yang penting satu rumah sama keluarga." Kalimatku menggantung. Aku melihat reaksi mereka. Gita saling pandang dengan Roni sekilas. Cepat tapi jelas. Aku menangkap ada sesuatu di sana: Risih. Keberatan? Bu Gita mengatur nada suaranya, hati-hati. "Rumah kami kan ya gitu, Bu. Kamar udah pas-pasan. Sandra sama Rozi aja sekarang udah mulai gede. Mereka butuh ruang." "Aku bisa di ruang tamu, Git. Asal ada kasur tipis. Ibu enggak apa-apa," potongku cepat. Roni menghela napas panjang, lebih keras dari sebelumnya. "Bu, jangan egois gitu dong." Kata-kata itu seperti tamparan. "Egois?" ulangku lirih. 🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain. 📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi. ⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun. 🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru. #kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga Cerita Hati Lansia