У нас вы можете посмотреть бесплатно Kisah Dakwah Ustaz Umarulfaruq Abubakar, Sempat Jadi Cleaning Service di Mesir | Cerita Para Kiai или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Dari sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, langkah seorang anak lelaki dimulai. Di kampung yang tenang itu, cahaya Ramadhan selalu datang dengan cara yang istimewa. Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan. Anak itu bernama Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Kini, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia. Namun, perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang. Cahaya dari Kampung Halaman Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas. Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian. “(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujar Umarulfaruq saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026). Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan. Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil. Mimpi ke Negeri Para Ulama Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.” Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga. Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan. Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan Hidup di Mesir bukan perkara mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi. “Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya. Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya. Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya. Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi Bagi Umar, belajar di Mesir bukan sekadar meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menempuh sanad qiraat. Menurutnya, Mesir adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang kuat. Proses itu kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri. Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, adalah jalan menuju kebahagiaan batin. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sarana pembersihan jiwa. Merawat Batin di Tengah Distraksi Di era yang serba cepat, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Menurutnya, manusia perlu memiliki rasa takut yang melahirkan harapan, takut yang menuntun pada perbaikan diri, bukan kecemasan yang melemahkan. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebab, ketika sandaran hidup hanya pada uang, kegelisahan mudah tumbuh. Bagi Umar, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk kembali membersihkan jiwa, mengurangi distraksi, dan meneguhkan tujuan hidup. Perjalanannya membuktikan bahwa mimbar dakwah tidak selalu dimulai dari panggung yang tinggi. Kadang, ia berawal dari lantai masjid yang disapu dengan sabar, dari kerja sunyi seorang perantau yang memelihara mimpi dan menjaga cahaya di dalam hati. (Tribun-Video.com/ Nila Irda)