У нас вы можете посмотреть бесплатно Tiga Anak Pahlawan Revolusi Ini Sukses Jadi Jenderal Bintang Tiga или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Tiga Anak Pahlawan Revolusi Ini Sukses Jadi Jenderal Bintang Tiga Tiga anak Pahlawan Revolusi ini sukses jadi jenderal bintang tiga. Siapa tiga anak Pahlawan Revolusi yang sukses jadi jenderal bintang tiga tersebut? Pahlawan Revolusi yang dimaksud adalah para perwira yang gugur jadi korban kebiadaban komplotan G30S PKI pada awal Oktober 1965. Seperti apa di Jakarta dalam peristiwa berdarah Gerakan 30 September atau G30S PKI, ada enam jenderal dan satu perwira pertama yang jadi korban penculikan dan pembunuhan komplotan G30S PKI. Enam jenderal yang jadi korban penculikan tersebut adalah Letjen Achmad Yani, Mayjen MT Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Mayjen Soeprapto, Brigjen DI Panjaitan dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Sementara perwira pertama yang jadi korban adalah Lettu Pierre Tendean, Ajudannya Jenderal Abdul Haris Nasution. Jenderal Abdul Haris Nasution sendiri selamat dari upaya penculikan komplotan Gerakan 30 September. Korban lainnya di Jakarta yang juga kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi adakah anggota Brimob pengawal rumah Waperdam J Leimena, Karel Sadsuitubun. Tak hanya di Jakarta, di Yogyakarta, dua perwira yakni Kolonel Katamso dan Letkol Sugiono juga jadi korban penculikan dan pembunuhan keji komplotan Gerakan 30 September di sana. Ternyata, setelah itu tak banyak putra-putra dari para Pahlawan Revolusi yang kemudian meneruskan jejak ayah mereka mengabdi di TNI sebagai prajurit. Tercatat, hanya tiga orang anak dari Pahlawan Revolusi yang berkarir di TNI. Tiga orang anak Pahlawan Revolusi ini karirnya cukup sukses dan pernah memegang jabatan strategis di TNI. Ketiganya finish dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal (Letjen) atau jenderal bintang tiga. Siapa saja mereka, anak Pahlawan Revolusi yang kemudian jadi tentara dan karirnya sukses hingga jadi jenderal bintang tiga ini? Berikut sekilas profil ketiga anak Pahlawan Revolusi yang sukses jadi jenderal bintang tiga. Yang pertama adalah Letjen Agus Widjojo. Letjen Agus Widjojo tidak lain adalah putra dari Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo. Letjen Agus Widjojo sudah pensiun. Sudah purnawirawan Letjen Agus Widjojo lahir di Surakarta pada tanggal 8 Juni 1947. Saat ini dia tengah dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina sejak 12 Januari 2022. Letjen Agus Widjojo merupakan abituren Akabri atau sekarang Akademi Militer (Akmil) tahun 1970. Dia satu angkatan dengan dua mantan KSAD, Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan Tyasno Sudarto. Agus Widjojo mengawali karirnya sebagai Perwira Pertama Pussenif. Setelah itu menjadi Wadan Yonif Linud 328/Dirgahayu. Selanjutnya dari tahun 1985 sampai dengan tahun 1986, Agus tercatat memegang posisi Komandan Yonif Linud 328/Dirgahayu. Kemudian didapuk menjadi Kepala Staf Brigif Linud 17/Kujang I. Karirnya terus menanjak, karena setelah itu dia dipromosikan menjadi Komandan Brigif Linud 17/Kujang I yang dijabatnya dari tahun 1990 sampai dengan tahun 1992. Usai bertugas di Brigif Linud 17/Kujang I, Agus dimutasi ke Kodam Siliwangi untuk memegang jabatan Asisten Operasi Kasdam III/Siliwangi. Dari Siliwangi, Agus dipindah ke Jakarta untuk memegang posisi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) Jaya. Setelah itu dipercaya memangku jabatan Wakil Asisten Perencanaan Umum Panglima ABRI. Tak lama setelah itu Agus diangkat menjadi Asisten Perencanaan dan Anggaran Kasad. Pada tahun 1998, Agus dipromosikan menjadi Komandan Sesko ABRI. Jabatan Komandan Sesko ABRI dijabatnya sampai tahun 1999. Kemudian ditugaskan ke Parlemen menjadi Wakil Ketua MPR yang dijabatnya dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Pada tahun 2016, Agus Widjojo dipercaya memegang posisi sebagai Gubernur Lemhannas hingga tahun 2022. Kini, oleh Presiden Jokowi dia dipercaya menjadi Duta Besar di Filipina. Yang kedua adalah Letjen Hotmangaraja Panjaitan. Letjen Hotmangaraja Panjaitan tidak lain adalah putra dari Mayjen Anumerta DI Panjaitan, salah satu jenderal yang jadi korban kebiadaban komplotan G30S PKI pada dini hari 1 Oktober 1965. Letjen Hotmangaraja tercatat sebagai lulusan Akabri atau Akmil tahun 1971 dari kecabangan infanteri (Kopassus). Sejak lulus dari Akmil, Hotmangaraja mengawali karir militernya di Kopassus yang saat itu bernama Kopassandha. Dia mengawali karir sebagai Komandan Peleton Kopassandha. Kemudian diangkat menjadi Pasi Intel Grup 1 Parako Kopassandha. Setelah itu menjadi Komandan Kompi Batalyon 12 Grup 1 Kopassandha. Kemudian menjadi Komandan Detasemen Batalyon 22 Grup 2 Kopassandha dengan pangkat Kapten. Lalu saat masih jadi Mayor, Hotmangaraja sempat memegang beberapa posisi antara lain Kasi-1 Intel Sat Gultor 81 Kopassus, Wadanyon Aksus Sat Gultor 81 Kopassus dan Pasi Ops Satgas Intel BAIS ABRI. Setelah itu dipromosikan menjadi Danyon Aksus Sat Gultor 81 Kopassus dengan pangkat Letnan Kolonel. Lalu diangkat menjadi Danyon 33 Group 3 Sandhi Yudha. Selanjutnya ditugaskan kembali ke BAIS ABRI sebagai Dansatgas Intel BAIS ABRI.