У нас вы можете посмотреть бесплатно Fakta Menampar Malaysia: Yogyakarta Hidup Tanpa Bangla, Kuala Lumpur Ketergantungan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kenapa sebuah kota di Indonesia bisa hidup tanpa bergantung pada pekerja asing, sementara negara yang lebih kaya justru seperti tak bisa berjalan tanpa mereka? Dalam video ini, saya membongkar realita yang jarang dibahas secara jujur. Dari jalanan Yogyakarta yang dipenuhi pekerja lokal, hingga kontras tajam dengan kondisi di Kuala Lumpur. Ini bukan soal nasionalisme sempit, bukan pula soal menyalahkan siapa pun. Ini tentang sistem, mindset, dan pilihan kebijakan yang selama ini kita anggap normal, padahal dampaknya sangat besar. Di Yogyakarta, hampir semua sektor digerakkan oleh rakyat sendiri. Dari warung makan, kafe modern, hingga sektor pariwisata di kawasan Malioboro, tidak ada ketergantungan masif pada pekerja asing. Gajinya mungkin tidak besar, tapi biaya hidup seimbang. Harga diri dalam bekerja dijaga. Dan yang paling penting, uang berputar di ekonomi lokal, bukan bocor keluar negeri. Sebaliknya, di Malaysia, kita terlalu lama mengambil jalan pintas. Mengimpor tenaga kerja murah dianggap solusi, sementara akar masalah dibiarkan. Akibatnya, rakyat sendiri tersingkir, ekonomi bocor, dan stigma “orang lokal malas” terus diwariskan tanpa pernah dipertanyakan. Video ini adalah tamparan keras sekaligus ajakan berpikir. Apakah benar orang lokal tidak mau bekerja? Ataukah sistemnya yang membuat bekerja menjadi tidak layak dan tidak bermartabat? #Yogyakarta #PekerjaAsing #PekerjaLokal #IndonesiaMalaysia #EkonomiRakyat #TenagaKerja #MasalahPekerjaan #CostOfLiving #NarasiKeras #IsuSosial #DiskusiPublik #KontenEdukasi #AsiaTenggara #EkonomiNasional