У нас вы можете посмотреть бесплатно KKM MANDIRI 166 UIN MALANG BARANOVA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Di antara hijaunya alam Banyuwangi, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Licin, kami memulai perjalanan yang tidak sekadar tentang menjalankan program, tetapi tentang belajar memahami kehidupan. Desa yang sederhana ini menyambut kami dengan senyum tulus, langkah pelan, dan kebersamaan yang perlahan menjadi rumah. Kami datang sebagai KKN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Baranova Kelompok 166, membawa harapan kecil dan niat untuk memberi, meski pada akhirnya justru kami yang banyak menerima pelajaran berharga. Hari-hari kami dimulai dari pasar, tempat denyut ekonomi masyarakat berputar. Di Pasar Licin dan Pasar Jadul Karangan, kami menilik bagaimana UMKM berjalan di tengah arus digitalisasi. Kami menemukan bahwa pembayaran digital seperti QRIS belum digunakan, dan dari sanalah kami hadir—menyapa para pedagang, berbagi pemahaman tentang kemudahan transaksi digital, serta mendampingi mereka yang berminat mendaftar QRIS melalui perbankan. Bukan sekadar tentang teknologi, tetapi tentang keberanian untuk melangkah dan tumbuh bersama perubahan. Kami juga belajar bahwa masa depan desa bertumpu pada generasi mudanya. Melalui sosialisasi stop bullying untuk anak-anak kelas 1 hingga 3 SD dan MI, kami berusaha menanamkan nilai saling menghargai sejak dini, agar tidak ada lagi tawa yang berubah menjadi luka. Untuk anak-anak kelas 4 hingga 6, kami berbagi tentang kenakalan remaja, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap pilihan hari ini akan menentukan langkah mereka di masa depan. Di ruang kelas TK yang sederhana, kami belajar arti menjadi pendidik. Bersama anak-anak, kami mengenal kesabaran, ketulusan, dan pentingnya memahami dunia dari sudut pandang mereka. Tawa, tangis, dan pelukan kecil itu menjadi kenangan yang akan selalu kami bawa. Sore hari kami habiskan di TPQ, mengajarkan dan mengamalkan ilmu agama, sembari menyadari bahwa pengabdian paling indah adalah yang dilakukan dengan hati yang ikhlas. Salah satu momen yang paling bermakna adalah ketika kami menyalurkan 200 Al-Qur’an dan 80 Iqro ke 8 dusun di Desa Licin. Setiap mushaf yang diberikan bukan hanya sekadar buku, tetapi doa, harapan, dan amal jariyah yang kami titipkan, agar setiap ayat yang dibaca menjadi cahaya bagi banyak kehidupan. Kami juga berbagi melalui seminar konten kreator, sebagai bentuk kontribusi kecil agar masyarakat dan pemuda desa mampu memanfaatkan media digital secara positif, kreatif, dan bermanfaat demi kemajuan Desa Licin. Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, desa ini telah menjadi bagian dari cerita hidup kami. Dari kebersamaan, tawa, lelah, dan doa yang terucap diam-diam, kami belajar bahwa pengabdian bukan tentang seberapa besar yang dilakukan, melainkan seberapa tulus niat yang ditanamkan. Dari Dusun Krajan, Desa Licin, kami pamit dengan rasa syukur, membawa kenangan yang akan selalu hidup, karena KKN boleh berakhir, tetapi pengabdian akan selalu menemukan jalannya di hati kami.