У нас вы можете посмотреть бесплатно Asap yang Kita Anggap Biasa_Kelompok 4_Kolaborasi Mini Film или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Identitas proyek Judul mini film : Asap yang Kita Anggap Biasa Kelompok : 4 Anggota Kelompok : 1. Jihan (Sutradara dan Editor) 2. Kartika (Pemeran dan Kameramen) 3. Kiara (Pemeran) 4. Laura (Pemeran) 5. Ardi (Penata musik dan Editor) 6. Faishol (Pemeran) 7. Rayhan (Pemeran) 8. Nabila (Pemeran) 9. Syifa (Pemeran dan Editor) Kelas: XI.1 dan XI.2 Mata Pelajaran Terlibat: Matematika Tingkat lanjut, Kimia, Ekonomi, dan Seni Musik Ide dan latar belakang cerita Cerita ini mengisahkan kehidupan siswa SMA di Jakarta setelah pulang sekolah, ketika udara sore yang dulunya sejuk kini berubah menjadi panas dan tercemar. Polusi udara semakin parah akibat padatnya kendaraan dan kebiasaan membakar sampah. Konflik muncul saat para siswa mengadakan aksi protes terhadap salah satu teman mereka yang masih membakar sampah di lingkungan sekitar. Peristiwa ini membuka kesadaran bersama tentang dampak polusi udara dan pentingnya menjaga lingkungan. Setelah adanya aksi demo, para siswa menjadi lebih sadar akan dampak polusi udara terhadap lingkungan dan kesehatan. Mereka mulai meninggalkan kebiasaan membakar sampah dan mencari alternatif lain, yaitu dengan mengelola sampah secara lebih ramah lingkungan. Sampah dedaunan dan sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah dan dikelola dengan baik. Kompos yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat diperjualbelikan, sehingga menumbuhkan kepedulian sekaligus tanggung jawab sosial di kalangan siswa. Sinopsis Mini Film Sekelompok pelajar SMA menyadari bahwa kualitas udara di lingkungan mereka semakin menurun dan tidak nyaman untuk dihirup. Obrolan santai mereka berkembang menjadi pembahasan tentang penyebab polusi udara di Indonesia, seperti asap kendaraan bermotor dan kebiasaan membakar sampah. Konflik muncul ketika salah satu siswa membakar sampah daun dan menimbulkan asap yang mengganggu sekitar, sehingga mendapat teguran dari teman-temannya. Dari peristiwa tersebut, mereka mulai memahami bahwa asap, sekecil apa pun sumbernya, tetap berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Melalui diskusi sederhana, para pelajar menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap kualitas udara. Mereka membahas solusi yang dapat dilakukan, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta mengelola sampah daun menjadi kompos yang lebih ramah lingkungan. Selain menjaga udara tetap bersih, pengolahan sampah juga memiliki nilai guna dan peluang ekonomi. Cerita ini menegaskan bahwa perubahan kecil yang dilakukan bersama dapat membawa dampak positif bagi lingkungan dan masa depan.